Pos

Pergeseran Politik Nasional, PKS Masuk Papan Atas

Pemilihan umum 2019 yang berlangsung secara serentak di seluruh Indonesia menunjukkan gejala perubahan besar. Bukan saja antusiasme masyarakat yang semakin kuat sehingga meningkatkan partisipasi pemilih, melainkan juga pergeseran dalam konstelasi nasional akibat kinerja partai-partai politik yangberkompetisi.

Gejala pergeseran cukup mengejutkandinyatakan Sapto Waluyo, Direktur Center for Indonesian Reform (CIR) yang telah melakukan riset intensif tentang percakapan di media sosial dan pengaruhinya terhadap sikap pemilih. “Sebagian besar pemilih menentukan sikap definitif pada hari-H pencoblosan dan sebagian lagi pada hari-hari tenang. Informasi yang tepat sasaran pada momen tersebut akan mengarahkan pemilih pada kandidat atau partai yang akan dicoblosnya,” ujar Sapto, alumni RSIS Singapura.

Masa kampanye terbuka yang berlangsung selama tiga pekan memang membantu memperluas jangkau pemilih yang semakin sadar pentingnya menunaikan hak politiknya. Sebagian warga dibuat jenuh dengan kampanye tertutup/terbatas yang berlangsung amat panjang. Tetapi, debat kandidat Presiden dan Wakil Presiden di stasiun televisi nasional selama lima babak dan iklan-iklan politik di berbagai media massaturut meningkatkan kesadaran.

“Perilaku pemilih pada akhirnya berdasarkan nilai atau kepentingan paling besar yang mereka rasakan. Mereka mempertimbangkan semua informasi dari beragam sumber, dan memakai sumber yang paling terpercaya: dari keluarga/teman, tokoh agama/masyarakat atau pertimbangan rasional mandiri,” ungkap Sapto yang sedang menempuh studi doktoral di Universitas Indonesia.

Sapto juga mengutip survei nasionalLembaga Kajian Strategis dan Pembangunan (LKSP). Survei dilakukan pada 17-31 Maret 2019, dengan jumlah responden 1.369 orang dan margin of error ± 3% serta tingkat kepercayaan 95%. Responden menyebar di 137 TPS (Tempat Pemungutan Suara) di 137 desa, pada 34 provinsi seluruh Indonesia.

Kerangka sampel pada seluruh TPS yang tercantum dalam DPS Pemilu 2019, dan responden ditentukan dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) di DPS Pemliu 2019. Metoda penentuan sampel adalah Multistage Random Sampling. Pada tahap pertama (systematic random sampling) memilih TPS yang akan disurvei. Alokasi jumlah sample TPS proporsional dengan populasi provinsi dan sistematik berdasarkan letak geografis. Tahap kedua: memilih responden dari DPT, Pada TPS terpilih ditentukan 10 responden yang secara acak diambil dari DPT yang diumumkan KPU.

Karakteristrik responden seimbang antara jenis perempuan (50%) dan lelaki (50%). Sementara dari segi usia: kelompok 16-25 tahun (17,9%), 26-35 tahun (19,8%), 36-45 tahun (22,8), 46-55 tahun (21,0%), 56-65 tahun (10,2%) dan >65 tahun (4,2%). Pendidikan yang ditempuh, sebagian besar responden tamat SMA/MA/SMK (31,6%), tamat SD/MI (23,5%) tamat SMP/MTs (20,4) dan tamat PT/sarjana (10,0%). Sementara dari segi pekerjaan, mayoritas respon sebagai ibu rumah tangga (27%), wiraswasta (19%), petani (18%), pegawai (9%), buruh pabrik (8%), pengangguran (4%) dan lain-lain.

Sebagian besar masyarakat (92,3%) sudah mengetahui pemilu tanggal 17 April 2019 akan dilakukan secara serentak antara pemilihan Presiden dan pemilihan anggota legislatif. Karena berlangsung serentak, pemilu kali ini akan menyita perhatian warga. Sebagian besar pemilih (84,4 %) lebih memperhatikan pemilihan presiden, kemudian 9,4 % memperhatikan pemilihan DPRD Kabupaten/Kota. Pemilihan lain sangat minim.

Yang mengejutkan dari survei LKSP adalah elektabilitas partai politik yang akan dipilih warga. PDIP menempatiranking teratas (22,7%), Gerindra di posisi kedua (12,2%) dan ketiga Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan nilai 6,9%. Diikuti Golkar (6,2%), PKB (5,6%), Demokrat (4,6%). Partai-partai lain berada di bawah ambang batas parlemen (4%), yakni PPP (3,6%), Nasdem (3,6%), PAN (2,2%), Perindo (1,2%), Hanura (0,9%), PSI (0,3%), Garuda (0,1%), PBB (0,1%), Berkarya (0,0%).

Tampilnya PKS ke papan atas perpolitik nasional sebenarnya sudah terbaca dari survei-survei sebelumnya yang dilakukan Litbang Kompas, CSIS dan lembaga lain. Namun, lembaga-lembaga tersebut selama ini hanya memprediksi PKS lolos ke papan tengah nasional. Lalu, mengapa LKSP memperlihatkan peluang PKS masuk ranking utama politik nasional?

Alasan warga memilih partai dalam pemilu legislatif karena: ketokohan pimpinannya (6,5%), kinerja kadernya (5,2%), visi da nisi partai (4,1%), program kerja kongkrit (3,7%), sikap pro-rakyat (3,3%) dan posisi Partai Islam (1,8%).“Dalam kontek PKS, kita melihat sosok Ketua Majelis Syuro Habib KH Salim Segaf al-Jufri yang dekat dengan kalangan ulama dan tokoh-tokoh masyarakat di berbagai daerah. Kinerja kader PKS juga tampak menonjol sebagai mesin politik efektif melakukan sosialsasi di kalangan tetangga dan segmen potensial (kaum perempuan dan millennial),” jelas Sapto.

Sapto melihat kemungkinan terjadi pergeseran politik nasional karena kondisi makro yang berubah sejak gerakan 212 bergulir di Ibukota DKI Jakarta (2016), Kemudian setelah itu ada pemilihan Gubernur DKI Jakarta (2017) yang menunjukkan bahwa rakyat mampu melakukan perubahan. Dan, dipuncaki dengan gerakan sosial #2019GantiPresiden yang berlangsung di seluruh Indonesia.

“Terutama untuk PKS, gerakan 212 berperan besar untuk membuktikan PKS mampu mengadvokasi aspirasi umat Islam dan dekat dengan warga akar rumput. PKS mengembangkan isu-isu kampanye yang membumi seperti: Penghapusan pajak kendaraan bermotor roda dua, pemberlakukan SIM seumur hidup, penghapusan pajak bag penghasilan di bawah Rp 8 juta (batas pemberlakuan pajak penghasilan minimal), serta perilindungan ulama, tokoh agama dan simbol-simbol keagamaan,” simpul Sapto.

Sejumlah faktor makro dan mikro politik bertemu dan membentuk resultante yang positif bagi kinerja PKS di mata pemilih. Tak aneh, PKS bisa lepas dari jebakan pilpres (efek ekor jas), sehingga posisinya makin mandiri, walau tidak ada kadernya dicalonkan sebagai capres atau cawapres.

Sumber: saluransatu.com

PKS, Angka 8, dan Tren 2004

PKS kembali mendapat nomor urut 8 dalam pemilu legislatif. Sepuluh tahun lalu, partai dakwah ini mendapat nomor urut yang sama. Tak perlu utak atik gathuk untuk memaknai hal ini. Tapi jadikan penyemangat untuk menyambung tren yang pernah diraih pada pemilu 2004.

Unik, nomor urut PKS biasanya berkelipatan 8. Pada pemilu 1999, saat masih bernama Partai Keadilan, angka 24 menjadi penanda keikutsertaan perdana partai yang konsisten dengan lambang dua bulan sabit kembar ini dalam pentas perpolitikan. Kala itu mereka meraih 1,36% suara.

Lima tahun kemudian, hasil undian yang keluar adalah nomor 16. Juga angka kelipatan 8. Saat itu raihan mereka melonjak menjadi 7,34% suara.

Di tahun 2009, angka 8 menghiasi bendera-bendera kampanye mereka. Tapi tren kenaikan pada 2004 lalu gagal dijaga. Mereka hanya meraih 7,88% suara.

Di tahun 2014, tidak lagi berkelipatan delapan, tapi nomor urut 3. Bila angka 8 dihapus sebelah kirinya, didapatlah angka 3.

Memang tidak ada kaitannya antara nomor urut dengan prestasi politik. Sebuah angka tidak bisa memberi manfaat atau pun mudhorot kepada suatu makhluk pun di dunia ini. Begitulah prinsip orang yang imannya mendalam kepada Allah swt.

Hanya saja saya teringat hal yang unik 10 tahun lalu. Memaknai angka 8, Sekjen PKS Anis Matta kala itu mengaitkan dengan kepercayaan orang Tionghoa. “Angka 8 adalah angka hoki. Angka 8 merata gemuknya. Jangan seperti angka 9, karena gemuknya di atas dan gemuknya tidak rata,” ujarnya. Ucapannya ini kemudian direspon oleh Ketua PBNU Ahmad Bagja. “Justru itu aneh. Kok PKS percaya ke mistik, ada angka hoki dan tidak hoki. Ya menurut saya anehlah.”

(Beritanya masih terarsip pada tautan: https://pksbeji.wordpress.com/2008/08/11/pks-tricky-soal-angka-hoki-8/ , https://www.portal-islam.id/2008/08/anis-matta-angka-8-gemuknya-merata-beda.html , dan https://pksbeji.wordpress.com/2008/08/11/ketua-pbnu-pks-kok-percaya-hoki/ )

Saya bersyukur pada pemilu kali ini tidak ada lagi yang mengaitkan nomor 8 dengan kepercayaan di luar Islam.

Setelah memperoleh lonjakan yang tinggi pada pemilu 2004, kader PKS banyak yang yakin tren itu terjaga pada 2009. Target mereka adalah 3 besar, bahkan 20% suara. Kejutan dari pilkada DKI Jakarta 2007 menjadi penanda. Di mana pasangan Adang Darajatun – Dani Anwar yang mereka usung merengkuh kepercayaan masyarakat ibu kota sebanyak 42.13%. Padahal pasangan ini diramal tak kan mampu mencapai di atas 30%.

Kader PKS kala itu dalam kepercayaan diri tinggi. Kampanye di Gelora Bung Karno dikalkulasikan hingga 122 ribu orang (tautan: https://news.detik.com/pemilu/1111930/kampanye-diikuti-122-ribu-orang-pks-masuk-muri ), sampai-sampai mendapat piagam rekor Museum Rekor RI (Muri) sebagai peserta kampanye terbanyak di GBK.

Tapi bayang-bayang nama besar SBY rupanya tak bisa terbendung. Akhirnya, jangankan dua puluh persen, sepuluh persen saja gagal diraih PKS. Tak ada pengulangan cerita mengagumkan seperti lima tahun sebelumnya. Faktor lain adalah pecahnya barisan di tubuh partai. Bahkan orang awam pun memprediksi hal ini. Saya pernah menguping pembicaraan karyawan kantoran yang sedang ngobrol politik. Salah seorang bilang, dengan fenomena FKP, PKS tidak akan mampu berjaya di 2009. Rupanya ucapannya benar.

Kini dua hal yang mirip tengah dihadapi PKS. Yaitu nama besar capres yang diusung, Prabowo, yang secara coat-tail effect akan memberi keuntungan kepada Gerindra. Dan munculnya ormas baru yang didirikan sebagian kader partai yang tak percaya dengan pimpinannya.

Akankah angka 8 persen kembali menjadi kerangkeng bagi komunitas tarbiyah ini?

Silakan dianalisa. Tapi saya rasa PKS kali ini akan menyambung kesuksesan angka 8 yang sempat gagal dulu. Ya, saya percaya partai ini akan melonjak kembali di 2019. Walau dengan kenaikan yang tak se-drastis 2014.

Coat-tail effect tak dipungkiri. Tapi bukan berarti itu akan memblokir dukungan kepada PKS. Karena tokoh lain yang berpengaruh seperti ulama yang sedang terasing di kota kelahiran Nabi Muhammad saw (saya tak sebut namanya untuk menghindari telinga mar jukerberg menjadi panas. Karena tulisan ini akan diposting di FB), juga Ustadz Abdul Somad, Ustadz Haikal Hasan, dan para pemuka agama lain, serta ormas-oramas Islam menyatakan dukungannya kepada partai ini. Nama-nama tersebut punya pengaruh yang tak kalah hebat dari Prabowo.

Selain itu, perpecahan yang dialami PKS justru membuat partai ini berjalan ringan tanpa beban. Kader-kadernya tak lagi merasa canggung karena pernyataan nyeleneh tokohnya di depan publik, sebagaimana kata sinting yang pernah terlontar. Justru perpecahan kali ini membuat kader yang masih bertahan di dalam semakin mantap untuk berjalan dengan mabda’-mabda’ (prinsip-prinsip) dakwah yang selama ini dijadikan jargon. Allahu ghoyatuna semakin kokoh di hati menepiskan cemoohan orang-orang yang keluar barisan yang berkata “politik kok mencari berkah?”

Kualitas perpecahan tahun 2009 berbeda dengan 2019. Dulu, sebagian kader dipecat karena menuntut agar barisan kembali kepada asholah dakwah. Kini sebagian kader membangkang gara-gara persoalan kursi basah. Justru yang bertahan ingin agar langkah-langkah PKS berorientasi berkah, bukan maneuver zig-zag dengan aroma pragmatisme yang membingungkan kader, simpatisan, dan ummat Islam.

Saya merasakan getaran spirit kader PKS yang meninggi di tahun ini. Ya, kita lihat saja nanti. Semoga harapan saya benar.

Zico Alviandri

Sumber: blog.pks.id

8 Stories : Film yang Menembus Batas Imaji

Tadi malam, PKS membuat kejutan. Saat situasi politik memanas dan diksi-diksi kasar memadati ruang publik, partai dakwah ini justru kebalikannya. Menghadirkan film untuk anak-anak milenial yang menembus batas imaji.

Judulnya 8 Stories. Nama-nama pemainnya: Kea, Adi, Dilan, Eja, Tera. Jika disambung menjadi Keadilan Sejahtera. Terbagi dalam delapan scene. Berisikan kisah-kisah generasi milenial yang penuh kejutan dan inspiratif.

Ada tentang fenomena anak yang bermimpi jadi Youtuber, orangtua yang tak pernah mengambil rapot anaknya hingga hal sepele seperti colokan untuk mencharge gadget.

Tentu saja tak ketinggalan ada bumbu asmara. Siapa lagi kalau bukan antara Kea dan Dilan. Namanya juga anak muda hehe. Tapi jangan berharap seperti film romantis kebanyakan. Tidak ada adegan ciuman, pegangan tangan dan berpelukan.

Justru disinilah kelebihan film ini. Tetap mampu menghadirkan ‘rasa itu’  tanpa harus terseret adegan mainstream kisah asmara anak muda.

Di luar itu, film 8 Stories yang diproduseri Ahmad Mabruri ini bisa jadi tak pernah terbayangkan dalam benak kader dan publik pada 21 tahun silam, saat partai ini dideklarasikan. Bikin film? Lah wong masuk bioskop saja masih sering jadi perdebatan.

Kecuali itu, adegan dan dialog yang tersaji juga minim simbol-simbol PKS. Kecuali jilbab dan angka 8 ya.

Ada Tera yang tak berjilbab. Dilan dan Adi yang tak berjanggut. Dan ini: tiada panggilan abi dan umi kepada kedua orangtua. Padahal dulu saat partai ini baru berdiri kerap disebut Partai Abi Umi.

Jika boleh saya menyimpulkan, film ini menembus batas imaji. Publik selama ini kadung membayangkan PKS dengan identifikasi tertentu. Tapi dalam film ini, hampir tak terlihat.

Disebut menembus batas imaji juga tersebab PKS jadi sebuah anomali. Kala publik dicekoki diksi-diksi kampanye semacam ‘goblok’, ‘lawan’, ‘sontoloyo’, sehingga persepsi terhadap pemilu jadi menyeramkan, tapi partai dakwah ini menawarkan keceriaan. Dan sejauh ini menjadi satu-satunya partai yang memproduksi film secara serius untuk anak-anak milenial.

Bravo PKS

Erwyn Kurniawan
Presiden Reli

Sumber: blog.pks.id

Masih Ragu Pilih PKS?

“Para Pendeta dari 12 Gereja di Pekanbaru ini bertemu dengan ana (saya), Kang. Mereka menyatakan siap mendukung ana untuk bisa mengemban amanah di Parlemen,”

Demikian Kak Nita (dr. Arnita Sari, istri Ketua DPW PKS Provinsi Riau H. Hendry Munief, MBA) memulai pembicaraan kami menjelang hidangan makan malam hadir. Di salah satu rumah makan di Pekanbaru.

Lebih lanjut Kak Nita menuturkan bahwa dirinya tahu, daerah tempat para Pendeta dan jemaatnya tadi merupakan pemukiman non muslim dan basis kuat salah satu partai pendukung petahana.

“Ana mengambil hikmahnya, meskipun mereka dari kalangan Kristiani, tapi mereka percaya bahwa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan para kadernya adalah partai yang tidak mereka ragukan kredibilitasnya,” sambung Kak Nita.

Aku mengangguk. Ya memang demikian adanya yang terjadi di masyarakat. Bahkan ulama seperti Ustadz Abdul Somad pun sampai merekomendasikan memilih PKS. Tak ketinggalan dengan Ustadz-Ustadz lain di negeri ini seperti Ustadz Bachtiar Nasir, Ustadz Haikal Hassan, hingga Imam Besar Habib Rizieq Shihab. Semuanya merekomendasikan ummat memilih PKS!

“Memang setelah menjadi Anggota Dewan ya kita menjadi milik rakyat. Dimana pun mereka, apapun agamanya. Aspirasi mereka tentu saja aspirasi anak bangsa yang hajat hidupnya harus ditunaikan. PKS sangat terbuka terkait ini. Lihat saja bagaimana PKS mendapat tempat di hati masyarakat Papua saat ini”

Kulihat Bang Munief turut memperhatikan pemaparan Sang Istri.

“Betul sekali. Memang kita (PKS) ya terbuka. Salah satunya dalam bekerjasama di masyarakat, bahkan dengan partai politik lainnya,” Bang Munief akhirnya berujar.

“Subuh kemarin, Selasa (02/04), ana mengisi kultum di Masjid. Ketua Takmir Masjidnya adalah Ketua salah satu partai. Dia mengendors ana ke jamaahnya. Di luar agenda kultum ana dikenalkan sebagai Caleg DPR RI, dan beliau mendorong jamaah Masjidnya untuk dukung ana. Ini silaturahim dan kepercayaan yang luar biasa,” sambung Bang Munief.

Pembicaraan kami kurasakan semakin hangat dan menarik. Kak Nita menggambarkan bahwa amanah yang diembannya sebagai Caleg DPRD Provinsi Riau mengenalkannya pada hikmah yang luar biasa.

“Ada hikmah buat diri ana atas amanah pencalegan ini. Ana bisa mengenal dan bersilaturahim dengan banyak orang. Terpenting ana tahu, bahwa yang percaya dan mendukung PKS ternyata sangat banyak. Inilah jalan dakwah yang ana pahami keberadaannya,” pungkas Kak Nita sesaat setelah pramusaji meletakan hidangan makan malam di meja.

Aku tertunduk. Alangkah indahnya perjuangan dalam barisan ini. Barisan manusia yang kesehariannya ditelaah dan diingatkan tentang sholat, sedekah, tilawah Al Qur’an, dan kebaikan-kebaikan lainnya oleh para Ustadz masing-masing.

Ternyata, dalam telaah amal-amal harian tersebut tersirat sebuah pelatihan, bahwa suatu hari siapapun orangnya dalam barisan dakwah di PKS akan mengemban amanah kepercayaan masyarakat. Tentu saja amal-amal harian yang berkesinambungan tadi akan menjadi rem bagi setiap keburukan yang mungkin timbul.

Tiba-tiba aku teringat seorang sahabat yang dengan nada sumirnya bertanya padaku;

“Oh, masih di PKS juga?”

Aku tersenyum. Jawabku teramat singkat.

“Alhamdulillah. Teman-teman non muslim dan partai lain saja percaya PKS. Masa aku tidak?”

Tak terasa waktu menunggu, hidangan makan malam telah semuanya tersaji. Tak lama rasanya, seumpama aku menunggu 17 April 2019. Hari dimana dukunganku terhadap PKS akan kunyatakan secara resmi. Tanpa ragu, tanpa malu, karena cinta memang butuh diungkapkan! #eeaa

Ewa (Reli Kepri)

Sumber: blog.pks.id

PKS Sedang Menjemput Takdir Sejarahnya

Melihat antusias umat, rasanya PKS memang sedang menjemput takdir sejarahnya. Meraih suara dua digit, bahkan bisa jadi melampaui perolehan suara partai Islam sejak Orde Baru hingga paska reformasi

Contohnya bendera yang berkibar tinggi di langit Mustika Jaya, Kota Bekasi ini. Yang memasang bukan kader PKS. Dia warga saya.

Jelang tengah malam meminta bendera besar kepada saya lalu dipasang. Sama sekali saya tidak menyuruhnya untuk memasang. Mungkin dia tahu betul kalau saya sebagai Ketua RT nya kader PKS tulen 😆

Saya yakin kondisi serupa juga dialami di banyak wilayah lain. Terutama para caleg yang dibantu oleh masyarakat dalam memasang baliho, spanduk dll.

Antusiasme di lapangan berkelindan dengan hasil survei berbagai lembaga. PKS ada di kisaran 4-6%. Yang terbaru dari Indikator pimpinan Burhanuddin Muhtadi yang menyebut elektabilitas PKS di angka 6%.

Merujuk pada hasil-hasil pemilu sebelumnya, suara PKS selalu 2-3 kali lipat dari hasil survei. Jadi tidak berlebihan kalau saya termasuk orang yang optimis PKS mampu menembus dua digit.

Seperti bendera PKS yang berkibar tinggi di langit Mustika Jaya, begitu pula harapan kita pada partai dakwah ini. Suaranya juga harus berbanding lurus. Melonjak tinggi pada 17 April nanti.

Karena PKS sedang menjemput takdir sejarahnya…

Erwyn Kurniawan
Presiden Reli

Sumber: blog.pks.id

Pahlawan Dalam Diam

Waktu tengah beranjak di sepertiga malam. Hujan rintik jatuh ke bumi diiringi suara katak bersahutan. Dingin. Angin berembus menjelajah sela dedaunan. Saat itu, ketika kebanyakan manusia terlelap dibalik kehangatan selimut, dua orang manusia terlihat sibuk menyusuri sepanjang jalan, menapaki gang demi gang. Menerobos hujan. Hanya bermodalkan sepeda motor butut.

Senyap keduanya bergerak penuh kehati-hatian. Gerakan-gerakan cepatnya menandakan keberadaan mereka tak ingin diketahui orang lain. Namun sangat disayangkan, sepasang mata Ustadz Narlis ternyata berhasil mengawasi gerak-gerik mereka. Sang Ustadz pun perlahan mendekat.

“Siapa itu?” tanya Ustadz Narlis. Kedua orang itu terperanjat kaget.

“Afwan (maaf-red), ini ana, Ustadz. Satu lagi putra ana,” sosok yang lebih besar menjawab tergagap.

Ustadz Narlis tak kalah terkejut. Temaram lampu dan rintik hujan ternyata mengaburkan pandangan beliau dari sosok yang sejatinya telah ia kenali.

“Subhanallah…antum sedang apa hujan-hujanan seperti ini?,” tanya Ustadz.

“Ana…afwan, Ustadz. Ana sedang memasang stiker milik caleg-caleg PKS. Ana ingin turut membantu kemenangan dakwah ini, Ustadz,” tuturnya.

“Lho bukannya antum caleg juga?”

“Betul sekali, Ustadz. Ana caleg. Tapi demi Allah, ana tak memiliki dana untuk membuat stiker, baliho dan atribut lainnya. Untuk biaya hidup saja kesulitan…,” sesaat lelaki ini menghela nafas dalam.

“Ana mohon izin, Ustadz. Biarlah ana menjadi tim sukses bagi saudara-saudara ana yang lainnya. Ana ikhlas demi dakwah ini, Ustadz,” tulus lelaki ini berujar.

Hujan, dingin, angin. Ketiganya belum jua berhenti. Kalimat demi kalimat sang lelaki menghunjam kesadaran Ustadz Narlis. Membawa beliau menelusuri kiprah dalam pengabdiannya kepada dakwah ini. Namun Ustadz Narlis sadar, nun jauh di lubuk hati beliau mengakui, lelaki di hadapannya adalah orang yang penuh ikhlas dan berjuang karena Allah Swt semata.

“Demi Allah, mulai malam ini, antum adalah murabbi ana,” Ustadz Narlis tak kuasa menahan tangis. Beliau memeluk erat lelaki di hadapannnya. “Antum telah mengajarkan ana tentang keikhlasan yang luar biasa,” sang Ustadz melanjutkan. Keduanya berpelukan dalam jalin persaudaraan. Erat. Hangat. Saling menumpahkan air mata.

Ustadz Narlis begitu terenyuh. Yang ia kenal, lelaki di hadapannya begitu bersahaja. Tak pernah mengeluhkan kesulitan hidup kepada ikhwah lainnya. Hingga saat ia diamanahkan untuk menjadi calon anggota dewan pun, tak tampak raut gusar di wajahnya. Namun apa yang dilakukannya malam itu begitu luar biasa. Ia membantu memasang stiker dan atribut milik caleg-caleg dari PKS lainnya. Ia mampu menepis segala keserakahan akan jabatan dan lebih mengutamakan kemenangan perjuangan dakwah yang diretas Partai Keadilan Sejahtera.

“Ana mohon, jangan sebutkan nama ana kepada siapapun, ustadz. Biarlah hanya Ustadz dan Allah Swt yang tahu apa yang kami lakukan untuk dakwah ini,” sang lelaki berpesan.

“Ana berjanji tidak menyebut nama antum. Namun ana akan mengisahkan pertemuan kita ini sebagai pembelajaran bagi ana dan seluruh ikhwah kita,” demikian Ustadz Narlis menjawab.

Sejenak kemudian sang lelaki dan anaknya pergi. Meneruskan apa yang mereka kerjakan. Perlahan, sosok keduanya menghilang dalam gelap malam. Suara sepeda motornya lapat. Menghilang. Jauh. Dalam. Membawa segenap cita-cita kemenangan dakwah.

Dan Sang Ustadz tak henti meneteskan air mata. Untuk sebuah pelajaran berharga. Tentang keikhlasan, perjuangan, dan pengejawantahan nilai-nilai tarbiyah yang tak terkirakan di hadapannya. Tentang seorang caleg yang ikhlas membantu caleg lainnya dalam kesenyapan. Tentang sosok pejuang. Tentang sosok pahlawan yang bekerja dalam diam.

Pun tentang sebuah janji, untuk sebuah nama. Yang harus dijaga dalam hati. Hingga nanti di penghujung waktu. Hingga nanti, saat bersua di Jannah-Nya. Semoga.

Oleh: Eko Cecep Wahyudi

_______

Dikisahkan oleh Ustadz Narlis, MA –

Sumber: blog.pks.id

Cara Praktis Mempertimbangkan Partai yang Akan Dipilih

Hi guys! Udah siap merasakan serunya El Clasico? Bukan cuma nonton, bahkan kita bisa terlibat langsung lho…!!

Hehe.. Ini bukan El Clasico antara Real Madrid vs Barcelona. Tapi pertarungan yang selalu panas di negeri ini tiap 5 tahun sekali. Yupz… Pemilu legislatif dan Pilpres.

Gak mau pusing? Iya sih, lebih enak mantengin video-video lucu Ria Ricis dan keluarga Gen Halilintar dari pada harus menganalisa siapa yang pantes buat dipilih. Puyeng bro. Belum lagi ajang bully-bullyan, kata-kataan, sindir-sindiran, dari para pendukung capres/parpol yang bikin bangsa ini kegerahan. Ditambah lagi sekarang masanya equinox.

Tapi mau gimana lagi, event itu masa depan kita. Kita mau cuek atau antusias, bakal ada sekelompok orang di gedung DPR yang bikin Undang-undang yang mengatur kita mau ngapa-ngapain. Bisa aja peraturan itu bikin tertib masyarakat, atau malah rese’, dikit-dikit ancemannya penjara, kayak artikel 13 buatan parlemen Uni Eropa.

Kita mau cuek atau peduli, akan ada orang-orang yang punya kesempatan korupsi uang rakyat. Kalau mereka jujur dan amanah, alhamdulillah. Tapi kalau mereka curang, hak kita dirampas mereka.

Maka itu guys, mau gak mau kita harus peduli. Pilih yang kompeten, yang gak rese’, yang mau berjuang buat rakyat, dan jujur amanah.

Gimana caranya menyeleksi sekian banyak orang?

Nah, ada salah satu cara instant untuk menganalisa. Gak susah-susah amat kok untuk dianalisa, mumpung masih beberapa hari lagi.

Kita generasi pemilih pemula patut menerapkan reward dan punishment buat partai-partai itu. Kita hukum partai yang banyak masalah dan melahirkan koruptor, dan kita apresiasi partai yang paling sedikit terlibat kasus korupsi. Begitu caranya.

Tanya kepada ahlinya ahli, intinya inti, core of the core. Eits.. ini bukan Pak Endul ya. Kita tanya ke google. Ada banyak grafis peringkat korupsi partai-partai. Baik anggota dewan atau pun kepala daerah.

Kata kunci gak perlu susah-susah. Misalnya “grafik korupsi partai”, cari di google image. Maka muncul infografis yang memudahkan kita untuk menganalisa, mana partai yang perlu dihukum dan mana partai yang perlu diapresiasi.

Tidak harus langsung mendapat satu kandidat partai yang coblosable. Setidaknya ada 2-3 partai nominasi, setelah itu pelajari lebih detail.

Sudah jelaskan, guys? Itu cuma salah satu cara saja. Lebih mudah. Tapi bisa efektif untuk aksi menekan korupsi.

Kalau pernah belajar teori peluang di pelajaran Matematika, kita bisa ukur probabilitas sebuah partai memunculkan korupsi. Mungkin ada yang berdalih, “namanya juga oknum. Jangan generalisasi dong…”. Oke, kita pilih partai yang paling sedikit melahirkan oknum. Kalau banyak koruptornya, itu mah bukan oknum, tapi memang sarangnya.

Teuku Muhammad Zacky
Caleg DPRD Provinsi Banten Nomor Urut 4
Dapil Kabupaten Tangerang A
Kelapa Dua, Legok, Pagedangan, Cisauk, Curug, Cikupa, Panongan,
Tigaraksa, Jambe, Jayanti, Solear, Cisoka, Balaraja

Sumber: blog.pks.id

Rumah Besar Rakyat Bernama PKS

Oleh: Ahmad Mufti Salim, Ketua DPW PKS Lampung.

Menjadi bagian dari panggung perpolitikan Indonesia yang gegap gempita setiap 5 tahun sekali merupakan prestasi yang dimiliki partai-partai besar. Salah satu partai yang diperhitungkan adalah PKS atau Partai Keadilan Sejahtera.

Partai yang terlahir dari rahim reformasi 20 tahun lalu ini masih menjadi partai favorit tempat rakyat berkeluh kesah. Walau sering kali didera isu ‘basi’ yang mencoba menumbangkan eksistensi PKS, PKS tetap eksis dengan berbagai program layanan di tengah masyarakat.

Sebut saja layanan kesehatan, lumbung darat hingga yang acap kali terlihat di beberapa media televisi adalah gerak kader PKS yang cepat dalam penanggulangan bencana-bencana besar di Indonesia.

Didukung banyak pihak di masyarakat tidak membuat PKS jumawa dengan semua kepercayaan yang ada. Hingga kini, PKS masih tetap menjadi lumbung aspirasi masyarakat untuk menyampaikan ‘uneg-uneg’ mereka tentang segala kebijakan yang ada di negara ini.

Kita tidak bisa menyangkal, bagaimana kader PKS yang duduk di parlemen sering kali muncul dan vokal dalam berbagai permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat. Sebut saja aksi Muzammil Yusuf yang pernah lantang menyuarakan tentang pembelaan seorang Fahmi yang dikriminalisasi karena aksinya membawa bendera merah putih bertuliskan tauhid sehingga satu ruangan sidang saat itu bergemuruh suara takbir.

Lain Muzammil, lain pula dengan Almarhumah Lena Rahman. Dalam keadaan yang kurang sehat, almarhumah Lena Rahman masih saja melakukan kewajibannya pada masyarakat walau saat itu dibantu dengan selang infus.

Belum lagi kader militan yang berada di daerah-daerah yang minim fasilitas. Tak jarang kader PKS menjalani aktifitas keummatan mereka membelah rimbanya hutan, tanah yang berlumpur hingga jalanan yang rusak parah karena pembangunan yang belum merata.

Ternyata bukan hanya kader PKS yang menjadi sorotan. Kantor wilayah PKS khususnya di wilayah Lampung sering dijadikan tempat berkumpulnya masyarakat bukan hanya dari kalangan kader dan simpatisan. Tetapi masyarakat umum dari berbagai lintas organisasi, profesi, hobi dan komunitas sering menggunakan arena kantor wilayah PKS untuk berkegiatan. Seperti halnya latihan bela diri, senam aerobik para ibu, untuk kegiatan kesenian hingga acara pelatihan-pelatihan mulai parenting hingga UKM.

Tak pelak, jika rumah besar rakyat itu bernama PKS karena banyaknya kelompok-kelompok masyarakat yang merapat ke partai berlambang bulan sabit kembar ini sekaligus mengantarkan dukungan mereka di pileg dan pilpres tahun ini.

PKS adalah payung berteduhnya semua lapisan masyarakat. Mulai dari akar rumput hingga para pakar dan profesional yang menginginkan negeri ini lebih baik.

Dunia Terbalik, Konstituen Nyumbang untuk Caleg PKS

Bukan sekali dua ada teman atau kerabat yang minta nomor rekening. “Lumayan buat cetak peraga kampanye,” kira-kira begitu pesannya.

Atau yang langsung memasukkan amplop ke dalam tas. “Dikit aja ya, Det. Soalnya aku ga bisa bantu apa-apa.”

Semua tanpa diminta. Ke ibu sendiri saja ga terucap minta kebutuhan kampanye yang rasanya tiada habis itu. Apalagi bikin open donation.

Tapi yang satu ini benar-benar bikin menetes air mata. Yang datang adik lelaki si konstituen. Masih teman saya. “Pokoknya 17 April harus menang!” Pesan si adik saat berpisah.

Isinya “hanya” Rp 300 ribu, tapi haru justru ga bisa dibendung. Teman saya itu bukan orang berpunya, masih punya tanggungan keluarga.

“Allah saja yang balas. Semoga berkah, diganti dengan yang jauh lebih banyak. Aamiin.” balasan saya ke dia – plus emoticon baper: mewek.

Di sudut negeri yang lain kejadian sama dialami teman sesama caleg PKS, Bang Sabarudi dari Riau. Dia bingung kenapa justru orang mau menyumbang dana kampanye untuk dia.

“Saya bilang kalau mau infak kampanye langsung ke partai saja, nanti partai yang atur penggunaannya,” ujar pengusaha ayam goreng di Pekanbaru ini.

Tapi, lanjut dia, penyumbang maunya nyumbang ke caleg. “Saya bantu PKS lewat abang. Duit itu silakan abang pake untuk berjuang.”

Yang lebih memewekkan lagi yang dialami teman-teman dapil 3 Bandar Lampung. Saat direct selling di daerah Way Halim, mereka jumpa Mbok Pariyem, pedagang sayur keliling. Sambil menawarkan PKS, mereka beli dagangan si mbok, tapi terkejut karena dia menolak dibayar.

“Mas, sekali kali kulo pingin bersodakoh. Mohon ditrimo sego pecel kulo. Mugo berkah kangge kulo sak keluargo.”

– Mas, sekali-sekali saya pingin bersedekah. Mohon diterima nasi pecel saya. Semoga berkah buat saya dan keluarga. –

Seraya mengatakan akan pilih PKS karena dia kenal salah satu caleg PKS di dapil itu, Pak Buntoyo. Dia kenal Pak Buntoyo orang baik.

Sehari-hari jumpa masyarakat, juga sesama caleg termasuk dari partai-partai lain, money politic itu haram, punya konsekuensi pidana, tapi toh kenyataannya terjadi dimana-mana.

Di Lampung fenomena itu makin meresahkan pasca pilgub. “Nilai” per kepala makin mahal.

Maka Mbok Pariyem dan orang-orang yang tahu mereka bisa menangguk untung 50-100-200ribu dari para caleg, tapi justru berlaku sebaliknya: menyumbang buat caleg, laku dan doa terbaik apa yang sebaiknya kita lantunkan?

Mendoakan dia dibalas Allah SWT dengan yang terbaik dan kita yang diberi tak mengkhianati kepercayaan mereka.

Mungkin itu.

Detti Febrina
Diamanahi PKS sebagai caleg DPR RI daerah pemilihan Lampung I

*Foto dari Pak Ahmad Rosep

Sumber: blog.pks.id

Kader PKS Dilucuti Pedagang Pasar

Ahad pagi selesai Senam Nusantara di lapangan, beberapa kader PKS langsung Flashmob di pinggir jalan raya, lalu bergerak masuk ke pasar tradisional untuk menyebarkan brosur.

Saat itulah, rompi Flashmob PKS – Prabowo Sandi diminta para pedagang pasar.

Mereka tak segan-segan minta difoto dengan rompi tersebut.

Mengharukan.
Sambutan hangat dengan dukungan ini sungguh luar biasa.

Tidak hanya satu saja yang meminta, hingga beberapa kader harus merelakan rompi kesayangan yang dikenakan diberikan ke para pedagang tersebut.

Semakin yakin, PKS layak menang di pemilu, 17 April 2019 nanti.

Yuk..

#17AprilPilihPKS
#PrabowoSandiMenang

Sumber: blog.pks.id