Pemilu 2019 dan Fenomena PKS

Oleh : Umar Sholahudin*

Pemilu serentak 2019 telah usai. Berbagai lembaga survey, di antaranya Litbang Kompas, Indobarometer, dan LSI Deny JA, telah mempublikasikan hasil quick count (hitung cepat), baik untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) maupun Pemilihan Legislatif (Pileg). Untuk Pilpres, tidak terlalu ada kejutan politik yang berarti. Dari hasil hitung cepat ketiga lembaga survei tersebut, menunjukkan keunggulan Paslon 01 Joko Widodo-M’aruf Amin, dengan 54% atas Paslon 02 Prabowo-Sandi dengan 46%. Justru yang memberikan kejutan politik ada pada Pileg. Ada perubahan signifikan pada komposisi perolehan suara partai-partai tengah.

Pada Pemilu 2019 kali ini, dua Parpol yang memberikan kejutan politik di luar dugaan banyak orang adalah melambungnya suara dua Parpol, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Berdasarkan hitung cepat beberapa lembaga survei, kedua Parpol tersebut rerata diprediksi akan mendapatkan perolehan suara sekitar 8-9%. Bagi kedua partai tersebut, ini adalah peningakatan perolehan suara yang sangat signifikan bila dibanding Pemilu 2014 yang hanya memperoleh 5-6%. Khusus untuk PKS, berdasarkan tiga lembaga survei, yakni Litbang Kompas memberi angka sebesar 8,76%, Indo Brometer: 9,66%, dan LSI Deny JA: 8,04%. Kedua partai tersebut menematkan urutan ke 5 (PKS) dan ke 6 (Nasdem), di bawah PDI-P (1), Gerindra (2), Golkar (3), dan PKB (4).

Peningkatan suara Nasdem yang cukup merata di berbagai daerah, selain karena ketersediaan logistik yang berlebih dan dukungan media (baca: MetroTV), juga karena faktor dukungan beberapa kepala daerah dari Nasdem dan beberapa Caleg petahana dari kalangan artis yang pindah ke Nasdem. Logistik, media dan figur caleg menjadi magnet politik bagi peningkatan suara Nasdem.

Selain itu, satu catatan penting dalam Pemilu serentak 2019 ini adalah tentang masalah coattail efect (efek ekor jas). Beberapa survei sebelumnya, PDI-P dan PKB diprediksi akan mendapatkan insentif elektoral dari pencalonan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin atau Gerindra yang mencalonkan Prabowo-Sandi.. Akan tetapi faktanya, perolehan dan peningkatan suara ketiga tersebut tidak terlalu signifikan. Kalaupun ada sangat minim pada angka 1-2%. Dengan kata lain, Pemilu serentak, khususnya pada Pilpres kurang memberikan coattail efect terhadap Parpol pengusungnya. Ini berbeda dengan Pemilu 2004, Partai Demokrat yang mencalonkan SBY, mendapat insentif elektoral yang sangat signifikan, dari 7,45% (2004) menjadi 20,85% (2009).

Fenomena PKS

Salah satu Parpol yang patut mendapat sorotan politik adalah PKS. Partai yang dari segi logistik sangat terbatas, dukungan media juga tak ada, apalagi figur, sangat minim. Namun dalam pemilu 2019 kali ini perolehan suaranya meningkat signifikan (8-9%) di banding Pemilu sebelumnya (2014), yakni 6,7%. Dengan perolehan 8-9% akan menempatkan posisi PKS pada urutan 5 atau 6, berpotensi menyodok partai papan atas. Perolehan suara PKS yang cukup fenomenal ini, mengingatkan publik pada perolehan suara PKS pada tahun 2004 sebesar 7,34% (dari sebelumnya 1999: 1,7%). Bahkan di DKI Jakarta menjadi jawara dengan perolehan suara sebesar 22%.

Pada pemilu 2014, PKS terkena badai politik “LHI” yang menjadikan perolehan suaranya turun dari 7,8% (2009) menjadi 6,7%. Saat itu beberapa lembaga survei memprediksi PKS akan jeblok suaranya akibat kasus “LHI”, kenyataannya, masih eksis. Dengan kata lain, meskipun kena badai politik, daya tahan politik PKS luar biasa. Partai kader dengan kumpulan anak muda tersebut mampu melewati masa sulit dengan “happy ending” di Pemilu 2014 lalu. Pada Pemilu 2019 ini, partai dengan tagline-nya : Berkhidmat Untuk Rakyat mampu meraup suara 8-9% versi hitung cepat beberapa lembaga survei nasional. Bahkan untuk DKI Jakarta, PKS berpotensi menjadi jawara dengan perolehan suara sekitar 22% versi real count KPU. Pertanyaan, faktor apa yang menyebabkan PKS menjadi “fenomenal” di
Pemilu 2019 ini.

Pertama, Soliditas mesin partai. Partai anak muda ini dikenal memiliki soliditas organisasii dan mesin partai yang sangat diandalkan. Ujian terberat pernah dilewati pada 2014. Dan pada Pemilu 2019, meskipun ada “gangguan politik” dari internal partai, yakni dengan eksodusnya beberapa elit PKS yang kemudian mendirikan organisasi baru : Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi), dengan tokoh sentralnya Fahri Hamzah dan Anis Matta dan beberapa pengurus di daerah juga eksodus dan berusaha melakukan penggembosan, namun tidak menggoyahkan organisasi. Mesin partai tetap jalan dan bahkan semakin solid. Ini salah satu kelebihan partai modern yang tidak mengandalkan figuritas, tapi kelembagaan partai.

Kedua, PKS memiliki kader-kader yang sangat solid. Ibarat pepatah, hilang satu, tumbuh seribu. Hilangnya tokoh-tokoh PKS, tidak menjadikan proses kaderisasi mandek, justru terus berjalan, laiknya kereta cepat, dan semakin mensolidkan kader-kader di bawah. Berpolitik tak sekedar memburu kekuasaan, tapi lebih dari itu politik adalah bagian dari dakwah.

Ketiga, PKS mampu membuat dan menjadi pembeda (distinguishing). Jika dibandingkan kampanye partai-partai lain, termasuk partai yang sangat mapan, PKS tidak menjual figur, tetapi menjual gagasan baru dalam kampanye yang ditawarkan kepada masyarakat : SIM seumur hidup dan penghapusan pajak sepeda motor. Keduanya menjadi “pembeda” dengan partai-partai lain, dan ini yang sepertinya menjadi magnet politik bagi elektabilitas PKS.

Keempat, munculnya kesadaran dan partisipasi politik islam yang semakin meningkat dengan munculnya fenomena “gerakan 411 atau 212”, memberikan insentif elektoral bagi partai partai islam, dan yang paling mendapat berkahnya adalah PKS. Apalagi tokoh sentral 212, Habib Riziq Shihab secara terus terang memberi dukungan politik kepada PKS. PKS juga mendapat berkah politik dari sikap eksplisit dari ustadz fenomenal, Abdus Somad. Dengan kata lain, meningkatnya kesadaran politik ummat ini, memberikan keberkahan politik tersendiri bagi PKS.

Selain itu, PKS dikenal partai yang sangat rajin merawat konstituennya. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, PKS mampu memberikan lompatan-lompatan politik cukup signifikan. Prestasi fenomenal ini ini tak lepas dari kerja keras, cerdas, tuntas dan ikhlas, serta berkat konsolidasi internal partai yang cukup solid dan mampu mengembangkan citra dan oponi publik yang positif.
PKS juga di nilai publik partai yang cukup konsisten menjaga citra partai yang simpatik dan santun. Masyarakat tertarik bukan karena nilai figuritas yang ditonjolkan partai, namun lebih karena faktor konsistensi dan kolektivitas partai dalam membangun citra diri dengan slogan “Berkhidmat untuk Rakyat”. Ini bukan hanya basa-basi politik saja. Berbagai kegiatan peduli sosial terus dilakukan PKS, baik pada saat Pemilu maupun di luar Pemilu. Pemilu 2019 ini menjadi kado terindah bagi milad PKS yang ke 21 tahun 2019 ini. Semoga PKS mampu menjadi partai yang amanah, harapan dan dambaan masyarakat Indonesia.

*) Mahasiswa S-3 FISIP Unair, Dosen Sosiologi FISIP Univ. Wijaya Kusuma Surabaya

Comments

comments