Kampanye Film, Terobosan Baru Partai Politik

Jakarta (09/04) — Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menggelar nonton bareng film “8 Stories” di CGV Jakarta Pusat, Senin (08/04/2019) semalam.

Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan PKS dan puluhan anak muda yang mayoritas berasal dari Jadebek. Ketua Bidang Humas DPP PKS, Ledia Hanifa juga turut mengapresiasi film perdana yang banyak melibatkan generasi milenial ini.

“Sebenarnya ini suatu terobosan baru ya untuk partai politik, bukan karena saya orang parpol ya. Tapi jarang ada partai politik secara khusus melakukan kegiatan seperti ini, produksi filmnya sendiri, cari talentnya sendiri, menulis naskahnya sendiri, luar biasa, semakin penasaran mau liaht filmnya,” kata Ledia.

Menurut caleg DPR RI Dapil Jawa Barat I ini, lahirnya film “8 Stories” ini berhasil merubah citra partai politik yang selama ini dicap seram dan kaku. “Jadi mereka (penonton, red) melihat oh parpol ternyata engga serem-serem amat, partai juga bisa menyenangkan dengan membuat film yang melibatkan anak-anak muda,” tambahnya.

Setelah dilakukan nonton bareng pada malam kemarin, film debutan sutradara Zul Ardhia ini juga akan diputar di seluruh DPW PKS se Indonesia.

Sumber: pks.id

8 Stories : Film yang Menembus Batas Imaji

Tadi malam, PKS membuat kejutan. Saat situasi politik memanas dan diksi-diksi kasar memadati ruang publik, partai dakwah ini justru kebalikannya. Menghadirkan film untuk anak-anak milenial yang menembus batas imaji.

Judulnya 8 Stories. Nama-nama pemainnya: Kea, Adi, Dilan, Eja, Tera. Jika disambung menjadi Keadilan Sejahtera. Terbagi dalam delapan scene. Berisikan kisah-kisah generasi milenial yang penuh kejutan dan inspiratif.

Ada tentang fenomena anak yang bermimpi jadi Youtuber, orangtua yang tak pernah mengambil rapot anaknya hingga hal sepele seperti colokan untuk mencharge gadget.

Tentu saja tak ketinggalan ada bumbu asmara. Siapa lagi kalau bukan antara Kea dan Dilan. Namanya juga anak muda hehe. Tapi jangan berharap seperti film romantis kebanyakan. Tidak ada adegan ciuman, pegangan tangan dan berpelukan.

Justru disinilah kelebihan film ini. Tetap mampu menghadirkan ‘rasa itu’  tanpa harus terseret adegan mainstream kisah asmara anak muda.

Di luar itu, film 8 Stories yang diproduseri Ahmad Mabruri ini bisa jadi tak pernah terbayangkan dalam benak kader dan publik pada 21 tahun silam, saat partai ini dideklarasikan. Bikin film? Lah wong masuk bioskop saja masih sering jadi perdebatan.

Kecuali itu, adegan dan dialog yang tersaji juga minim simbol-simbol PKS. Kecuali jilbab dan angka 8 ya.

Ada Tera yang tak berjilbab. Dilan dan Adi yang tak berjanggut. Dan ini: tiada panggilan abi dan umi kepada kedua orangtua. Padahal dulu saat partai ini baru berdiri kerap disebut Partai Abi Umi.

Jika boleh saya menyimpulkan, film ini menembus batas imaji. Publik selama ini kadung membayangkan PKS dengan identifikasi tertentu. Tapi dalam film ini, hampir tak terlihat.

Disebut menembus batas imaji juga tersebab PKS jadi sebuah anomali. Kala publik dicekoki diksi-diksi kampanye semacam ‘goblok’, ‘lawan’, ‘sontoloyo’, sehingga persepsi terhadap pemilu jadi menyeramkan, tapi partai dakwah ini menawarkan keceriaan. Dan sejauh ini menjadi satu-satunya partai yang memproduksi film secara serius untuk anak-anak milenial.

Bravo PKS

Erwyn Kurniawan
Presiden Reli

Sumber: blog.pks.id

,

Cocokkah PKS Buat Anak Millenial?

Beda generasi beda gaya. Tahun 90an akhir hingga 2000an awal, anak muda terutama mahasiswa hidup dalam suasana heroik. Aspal panas adalah sahabat yang harus disapa rutin dengan yel-yel “Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia!!” dan berbagai bentuk teriakan reformasi.

Waktu berlalu. Dunia maya menjangkau berbagai kalangan. Bersamaan dengan jejaring sosial yang membuat internet menyediakan kehidupan tersendiri. mIRC, Friendster, Multiply, hi5, adalah platform pendahulu yang telah berlalu, yang kemudian digantikan oleh facebook, twitter, instagram, whatsapp, telegram, line, dll seperti sekarang.

Maka dunia anak muda saat ini adalah dunia konten kreatif. Yel yel kekinian adalah, “Hi guys, welcome back to my youtube channel!”. Kebanggaan bukan lagi ada pada panggung orasi, tetapi pada jumlah viralnya sebuah konten dan jumlah follower/friend/subscriber.

Hanya saja fenomena ini bukan untuk ditertawakan. Bagaimanapun juga, mereka dengan karakter yang begitu adalah market bagi pebisnis. Termasuk bagi sebuah entitas politik yang membutuhkan suara sebagai syarat kesuksesan. Anak muda yang dijuluki millenial harus didekati, dibuat terpesona, sehingga mau mencoblos logo partai atau foto sepasang kandidat di sebuah kertas suara.

Bagaimana dengan PKS? Apakah memilih jalan sebagai partai dakwah bisa memikat para millenial? Partai ini memang didirikan dan dibesarkan oleh para pemuda yang ikut berjuang di zaman reformasi. Sempat diberi atribut sebagai partainya anak muda. Tapi bagaimana dengan sekarang?

Kalau kata kuncinya kreatifitas, PKS sudah memiliki beberapa ikhtiar. Ada saluran-saluran yang mewadahi bakat anak-anak muda jaman now. Tetapi sebelum membahas itu, ada satu kunci juga yang membuat PKS cocok untuk anak muda berlabuh. Yaitu fenomena hijrah.

Internet telah membuka jalan bagi publikasi, baik untuk kemungkaran maupun kebaikan. Tak sedikit yang memanfaatkannya untuk berdakwah. Sehingga gelombang orang-orang yang hijrah – istilah untuk memperbaiki hidup agar lebih dekat dengan Islam – makin besar. Fenomena ini menjangkit juga di kalangan millenialis.

Pada pendekatan tersebut, PKS sudah sangat cocok bagi anak-anak hijrah. Kader partai berlambang bulan sabit kembar ini diwajibkan untuk hadir dalam halaqoh tarbawiyah sepekan sekali. Acara itu bertujuan untuk membentuk kepribadian muslim yang berintegritas dan menjalankan Islam secara syamil wa mutakamil (lengkap dan menyeluruh) atau kaffah.

Halaqoh tarbawiyah telah mengubah kehidupan ribuan kader PKS ke arah yang lebih baik. Tiap kader punya kisah sendiri yang haru biru dengan agenda ini. Maka hijrah adalah ruh PKS selama acara pekanan itu masih dipertahankan.

Anak muda yang hijrah lalu terbersit keinginan untuk berbuat lebih banyak untuk masyarakat, tepat bila memilih PKS sebagai media perjuangannya. Karena politik sejatinya mengurus masyarakat banyak. Dan penting pula merebut kekuasaan dari kaum sekuler. Tapi bagaimana bila tak suka politik?

PKS bisa disebut partai dengan jiwa sosial paling tinggi. Hampir di setiap bencana besar yang terjadi di Nusantara ini kadernya turun membantu para korban. Berkiprah bersama PKS tak cuma menjadi politisi. Malah kerelawanan sosial lebih dominan. Maka tak masalah. Selama ada niat berkontribusi besar, PKS bisa menjadi sarananya.

Kembali ke urusan konten kreatif, di bawah Humas PKS terdapat lima komunitas. Yaitu PKSTV, PKSFoto, PKS Art, Relawan Literasi, dan Sekolah Digital.

Sesuai namanya, PKSTV adalah komunitas yang mewadahi konten videografi. PKSFoto menyalurkan bakat millenialis yang hobi fotografi. PKS Art jadi ajang anak muda jaman now mengolah design grafis yang ciamik. Relawan Literasi adalah rumah para penulis berbaper ria atau menumpahkan gagasannya. Dan Sekolah Digital adalah kumpulan warganet yang senang dengan dunia media sosial.

Hubungan PKS dengan anggota komunitas itu adalah simbiosis mutualisme. Kehumasan partai mendapat manfaat dari konten publikasi yang mereka buat, dan anak-anak muda itu pun mendapat tambahan ilmu yang berharga dalam bidang yang mereka minati. Tak cuma konten serius berupa hardnews, konten lucu-lucuan juga mendapat tempat.

Bercita-cita menjadi konten kreator? Coba bergabung saja dengan PKS!

Di luar komunitas konten tadi, PKS pun punya wadah bernama PKS Muda. Perkumpulan ini aktif mengadakan event-event yang mengasah gagasan anak-anak muda, baik berupa kegiatan diskusi atau acara seru-seruan yang tak meninggalkan bobot intelektual.

Beberapa orang dari PKS Muda ini sudah sering tampil di televisi. Sebut saja nama Pipin Sopian, Muhammad Khalid, atau Arya Sandhiyuda. Di setiap talkshow, mereka mampu mengimbangi argumentasi pembicara lain yang lebih senior.

PKS juga memiliki wadah Garuda Keadilan (GK). Memang komunitas ini dikhususkan bagi anak-anak kader yang minimal sudah menginjak remaja. Di dalam GK, para millenialis bisa membuntuti jejak heroik orang tuanya yang telah berjuang lebih dulu membesarkan partai. Meski dengan jiwa mereka yang penuh kreatifitas. GK ini bisa menjadi magnet bagi anak muda lain untuk bergabung bersama PKS.

Di luar wadah-wadah itu, PKS juga memperkenalkan maskot-maskot muda yang menjadi simbol generasi millenial. Ada Kea, Adi, Dilan, Eja, Tera. Kelima nama itu diambil dari “Keadilan Sejahtera”. Dibuatkan kartunnya serta diberi karakter masing-masing, mereka menghiasi grafis karya PKSArt serta menjadi tokoh cerpen karya Relawan Literasi. Terakhir, sedang dibuat film untuk para maskot tersebut.

Jadi, PKS bisa menjadi rumah bagi anak muda. Yang ingin hijrah, yang ingin mengasah kreatifitas, yang senang dengan diskusi yang berbobot, ada salurannya. PKS pun berdialog dengan konstituennya menggunakan maskot anak muda.

Ikhtiar sudah ada, tinggal dioptimalisasi dan dikembangkan terus agar berbuah elektabilitas.

PKS adalah tawaran bagi anak muda yang tak cukup dipikat dengan iklan jayus partai politik yang mengaku millenialis padahal dicukongi kolonialis.

Udah? Udah?

Zico Alviandri

,

Kisah Peserta Audisi Film 8 Stories PKS: Saya Non Muslim Bang…

Oleh: Ahmad Mabruri

Ada yang menarik di ajang final audisi film 8 Stories kemarin.

Salah seorang peserta final Vania Valencia bertanya ke panitia. “Bang saya gak punya perlengkapan solat dan alquran terjemahan.
Saya non-muslim bang.” 🙂

“Oh gakpapa gak usah dibawa. Datang aja.”

Dan selama dua malam tiga hari Vania selalu duduk paling depan dan mencatat serius tausiyah yang disampaikan para ustadz. Aktif bertanya dan disiplin mengikuti kelas akting.

Vania sangat surprise ada PKS partai islam yang tidak melulu bicara politik. Tapi bikin program film yang mengedukasi kaum milenial. Dan dia bangga bisa ikut serta di dalamnya.

Sukses selalu ya Vania!

Sumber: blog.pks.id

Puluhan Pemuda Jambe Bantu Sosialisasikan Caleg PKS

Kabupaten Tanggerang — Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kecamatan Jambe mendapatkan dukungan penuh dari Puluhan Pemuda Kecamatan Jambe. Seperti yang dilakukan baru-baru ini, PKS bersama Pemuda Jambe menyambangi warga di Desa Daru dan Desa Taban, Kecamatan Jambe, Ahad (17/02/2019).

Diantara yang disambangi PKS dan para pemuda tersebut adalah tokoh ulama dan para pemuda. Mereka mengenalkan Calon Anggota Legislatif (Caleg) PKS Muhamad Hasan serta mengajak untuk mendukung PKS dan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden, Prabowo-Sandi.

“Alhamdulillah ditemani dengan teman-teman Pemuda Jambe, kita bisa silaturahim dengan beberapa tokoh dan para pemuda,” kata Muhamad Hasan.

Sedangkan salah satu tokoh Pemuda Jambe, Ustadz Abdul Hadi menyampaikan bahwa para pemuda Jambe siap membantu PKS untuk mensosialisasikan Muhamad Hasan di Jambe.

“Sudah seharusnya. Karena PKS adalah salah satu partai hasil ijtima ulama. Dan sama-sama menginginkan perubahan dan kepemimpinan nasional yang baru,”kata Ustadz Abdul Hadi.

Aksi silaturahmi yang berjalan sejak pukul 09.00 hingga pukul 12.00 WIB berjalan dengan penuh persaudaraan dan kekeluargaan.

Sumber: pks.id

Gali Bakat Seni Milenial, PKS Jateng Gelar Audisi Film

SEMARANG (16/02) — Dewan Pengurus Wilayah Partai Keadilan Sejahtera (DPW PKS) Jawa Tengah menggelar casting audisi Film 8 Stories di kantor DPW PKS Jalan Kelud Utara nomor 46 Petompon, Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang.

Ketua DPW PKS Jateng Fikri Faqih mengatakan PKS ingin menggali dan mengembangkan bakat seni generasi milenial maka lewat audisi ini mereka dapat menyalurkan ekspresi dan mengembangkan diri.

“Pengambangan bakat dan keterampian seni menjadi salah satu prioritas program PKS, terutama untuk generasi milenial. Mereka butuh penyaluran ekspresi dan pengembangan diri,” ujar Fikri.

Menurut Fikri, di momen menuju Pemilu 2019 politik harus menggembirakan dan dinikmati generasi muda.

“Suasana politik menuju Pemilu cukup panas, PKS ingin menghadirkan politik dengan kegembiraan yang dapat dinikmati semua kalangan terutama generasi muda. Agar ketegangan juga dapat mereda,” tambahnya.

Puluhan pemuda-pemudi mendaftar menjadi peserta audisi Film 8 Stories PKS dari berbagai kota. Peserta anrtara lain dari Kota Semarang, Kota Salatiga, Kota Tegal, Kabupaten Kudus, dan daerah lainnya.

Selain audisi film, PKS Jateng juga menggelar panggung musik dan seni. Musik angklung Cakeb asal Kabupaten Banjarnegara dan grup musik El Azizi asal Kota Semarang meramaikan acara ini.

Audisi Film 8 Stories PKS digelar serentak di 13 daerah antara lain Semarang, Bandung, Makassar, Surabaya, Medan, Palembang, Jogjakarta, Mataram, Padang, Pekanbaru, Samarinda, dan Lampung. Peserta yang lolos audisi dari Semarang nantinya akan mengikuti audisi di tingkat nasional bersama dengan perwakilan daerah lain.

Sumber: pks.id

Memahami Jamaah Milenial

Hari ini dan besok, Sabtu-Ahad 16-17 Februari PKS bikin audisi dan casting calon pemeran Kea, Adi, Dilan, Eja dan Tera di 13 kota secara serentak. Jakarta, Bandung, Semarang, Jogja, Surabaya, Mataram, Lampung, Palembang, Padang, Pekanbaru, Medan, Samarinda dan Makassar.

PKS membuka lembaran baru dalam rangkaian kampanye pemilihan legislatif 2019. Kampanye itu dilakukan dengan membuat film layar lebar. Belum pernah ada satu partaipun di Indonesia yang melakukan hal seperti ini.

Berapapun peserta yang ikut casting di 13 kota itu menjadi catatan dalam perjalanan kampanye PKS berkhidmat untuk umat. Para milenial usia 17-24 tahun yang selama ini jarang terlihat datang ke kantor partai. Hari ini dan besok mereka akan menyambangi kantor PKS di 13 kota.

PKS dengan kampanye model freezmob dan flashmob nya saja sudah menyentak kesadaran masyarakat. Tiap Sabtu-Ahad pagi dan sore para kader itu berjejer di sepanjang jalan memakai atribut “rompi” PKS yang khas.

Tidak ada satupun partai yang dapat melakukannya terus menerus dan massif seperti para kader PKS.

Dan kini, kampanye dengan bikin film layar lebar dilakukan PKS. Sebuah langkah strategis. Kampanye biasanya kental dengan jargon politik dan janji janji. Tapi PKS mengemas dengan seni dan film.

Jamaah milenial punya cara sendiri dalam menentukan pilihan politiknya. Ia beda dengan orang tuanya. Secara umum sifat jamaah milenial punya karakter:

1. no gadget no life
2. here and now
3. gercep alias gerak cepat
4. instant
5. lebih baik ngalamin daripada duit
6. beda itu ibadah
7. multitasking
8. kritis meski krisis
9. update itu wajib
10. sharing is cool

Nah bertolak dari karakter milenial itulah skenario film 8 Stories dibikin. Film ini bergenre omni bus. Ada 8 potongan cerita problem jamaah milenial yang diangkat. Cerita sederhana, ringan dan alur cepat. Salah satu contohnya adalah cerita dengan tajuk ‘Colokan’. Bagaimana gegara rebutan colokan di sebuah kedai kopi 5 anak millenial ini bertengkar hingga hampir saja bikin celaka seorang ibu. Atau cerita tentang Tera seorang hacker yang bekerja dalam diam tapi mampu bikin runyam.

Casting di 13 kota ini nanti adalah langkah awal untuk menyaring talent dari seluruh Indonesia. Mereka yang lolos casting akan mendapat golden tiket ke Jakarta.

Pada 21-23 Februari nanti yang terpilih dari casting daerah akan masuk karantina mengikuti audisi final di Jakarta. Mereka yang lolos ini akan diasah kamampuan aktingnya oleh para seniman film berpengalaman.

Usai di karantina dan terpilih 5 bintang pemain, PKS akan melaunching pemeran utama film 8 Stories disambung dengan proses produksi film.

Waktu memang terasa cepat. Tak terasa hari pencoblosan hanya tinggal hitungan hari. Sekitar 60 hari lagi pilpres dan pileg dilaksanakan.

Rencanannya sepekan sebelum hari pencoblosan film ini siap tayang. 10 April kita akan adakan nonton bareng 8 Stories di seluruh kota Indonesia. Para pengurus partai dari tingkat pusat sampai kelurahan akan refreshing setelah 6 bulan kampanye yang melelahkan.
Mereka dan para jamaah milenial akan duduk manis menikmati sajian film 8 Stories sambil mengunyah pop corn. Politik itu asyik kalau kitanya gak terlalu berisik.

Salam

Mabruri,
Wakil Direktur Penggalangan Opini dan Media TPP Pusat

PKS Membuka Audisi “Mencari Bintang” untuk Anak Muda

MENCARI BINTANG :
KEA – ADI – DILAN – EJA – TERA
Download Karakter Tokoh di www.pks.id

LOKASI AUDISI :
JAKARTA, BANDUNG, MAKASAR, SURABAYA, MEDAN, PALEMBANG, JOGJAKARTA, MATARAM, PADANG, PAKANBARU, SAMARINDA, SEMARANG, LAMPUNG.

SYARAT PENDAFTARAN :

  1. Terbuka untuk Umum, Laki-laki atau perempuan usia 17 s/d 24 tahun.
  2. Berperilaku baik dan bebas narkoba
  3. Download formulir pendaftaran di www.pks.id
  4. Kirim ke email Bidang Humas DPW PKS tempat pilihan audisi
    (Cc: Bidang Humas DPP PKS), berikut attachment atau link berisikan :
    – Foto ukuran 4 R : Close Up, Setengah Badan & Seluruh Badan.
  5. Follow semua akun socmed DPP PKS
    (Instagram, Twitter, Fanspage Facebook dan Subscribe YouTube PKSTV). Bukti Screenshot follow disertakan melalui email.

Catatan

a. Karakter Tokoh Bisa dilihat di http://art.pks.id/sekilas-tentang-maskot-lima-sahabat-muda-pks/
b. Kirim Formulir Pendaftaran ini ke alamat email humas DPW PKS tempat pilihan audisi : Jakarta, Bandung, Makasar, Surabaya, Medan, Palembang, Jogjakarta, Mataram, Padang, Pakanbaru, Samarinda, Semarang, Lampung.
CC : humas@pks.id
c. Sertakan attachment atau link berisikan :
Foto ukuran 4 R Close Up, Setengah Badan & Seluruh Badan & screenshot telah memfollow akun socmed PKS (Ig, Twitter, Youtube)

Batas akhir pengiriman FORMULIR : 15 Februari 2019.

JADWAL AUDISI SERENTAK : 16 – 17 FEBRUARI 2019
TEMPAT : KANTOR DPW PKS JAKARTA, BANDUNG, MAKASAR, SURABAYA, MEDAN, PALEMBANG, JOGJAKARTA, MATARAM, PADANG, PAKANBARU, SAMARINDA, SEMARANG, LAMPUNG.

JADWAL AUDISI FINAL : 21 – 24 FEBRUARI 2019
TEMPAT : JAKARTA

DOWNLOAD FORMULIR

Hadirkan Politik yang Fun, PKS Muda Gelar Sumut Muda Fest 2019

Medan (31/1) — Salah satu sayap muda Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendorong agar generasi milenial tidak anti politik melalui gelaran “Sumut Muda Fest 2019” di Lapangan Cadika Medan Johor, Kota Medan, Ahad (27/1/2019).

Melalui acara ini, Koordinator Nasional PKS Muda, Yoandro Edward mengatakan PKS Muda menghadirkan suasana politik yang fun dan penuh dengan adu gagasan yang positif.

“PKS Muda hadir ingin memberikan suasana politik yang fun, tidak tegang, adu gagasan agar pemilih pemula dan muda tidak antipati dengan politik, menampung segala aktivitas positif agar anak muda punya saluran yang tepat,” kata pria yang akrab disapa Bang Iken.

Sebagai provinsi terbesar di Sumatera, Sumatera Utara banyak melahirkan beragam potensi anak muda, seperti penyanyi, olahragawan, bakat dan hobi hingga politisi. Melalui Muda Fest, diharapkan aspirasi anak muda dapat terwakilkan dengan hadirnya PKS Muda.

“PKS Muda Nasional ingin memastikan suara dan aspirasi anak muda di Sumut bisa terwakilkan dengan adanya PKS Muda. Kita buat event Sumut Muda Fest, menampilkan mahasiswa berprestasi, parkour community, standup commedy dan aktivitas lainnya sebagai upaya ingin menunjukkan ke masyarakat, PKS Muda siap kolaborasi dengan komunitas anak muda bangsa lainnya,” katanya.

Hadir di acara itu, Ketua DPW PKS Sumatera Utara Hariyanto mengingatkan bahwa pemuda adalah agen perubahan. Pemuda harus bersuara dan tidak menyerah dalam menyampaikan pesan kebenaran.

“Pemuda adalah agen perubahan di dalam keluarga dan masyarakat. Sebagaimana para sahabat Rasulullah, pemuda tidak kenal menyerah dalam menyampaikan kebenaran walau jauh dari kampung halamannya sendiri,” ujarnya.

Rangkaian yang dimulai sejak hari sabtu (26/1) ini, menghadirkan diskusi budaya bertajuk “Ngaji Budaya bersama Tifatul Sembiring”. Dilanjutkan talkshow, hiburan seni hingga pelantikan pengurus PKS Muda Sumut.

Sumber: pks.id

Anak Muda Berbondong-bondong Hadiri Ngaji Budaya PKS

Jakarta (19/01) — Ada yang beda di Kantor DPP PKS malam kemarin, Jum’at (18/01/2019). Puluhan anak-anak muda berbondong-bondong memadati aula Kantor DPP PKS untuk mengikuti acara Ngaji Budaya PKS.

Wakil Ketua Bidang Seni dan Budaya DPP PKS, Mabruri sampaikan selain jumlah pesertanya yang membludak hingga memenuhi seluruh area di lantai 1 Kantor DPP PKS, ia juga merasa senang dengan antusiasme para peserta dalam menyimak materi yang disampaikan oleh seluruh narasumber.

“Ini acara ngaji budaya paling luar biasa, pertama yang datang anak milenial semua, kedua antusiasme mereka untuk bisa menjadi conten creator yang baik itu sangat terlihat dan narasumbernya juga inspiratif semua,” tutur Mabruri.

Mabruri berharap, seluruh peserta yang hadir dapat mengaplikasikan ilmu yang sudah didapatnya dari seluruh narasumber.

“Semoga mereka bisa mengaplikasikan ilmu-ilmu yang sudah didapatnya ya. Saya kira satu hal yang baik untuk kita, untuk kader-kader muda PKS, insyaAllah juga untuk anak-anak Indonesia,” ungkap Mabruri.

Sejalan dengan itu, pemilik akun @bangijal_tv, M Rijal Mulyana juga mengingatkan kepada seluruh peserta untuk memaksimalkan waktu dengan hal-hal yang bermanfaat.

“Anak-anak muda, saya juga masih muda, hehe. Maksimalkan waktunya, jangan buang-buang waktu, nongkrong boleh buat video boleh, itu positif. Jangan banyak main, main sekadarnya saja, jangan lupa shalat sama ngaji,” kata lelaki yang akrab disapa Bang Ijal ini.

Sumber: pks.id