Assalamualaikum gaes
Kamu harus tau ni
Jelang pemilu 17 April ni wajib nonton ini dulu
Alhamduillah banyak dukungan dari ulama dan habaib kepada PKS
Siapa aja yuk kita simak

Pertama adalah Ustadz Haikal Hassan, ustadz yang biasa dipanggil Babe Haikal ini mendukung PKS gaes
Kata Babe PKS tidak pernah abu-abu, sejak awal berdiri nya PKS memperjuangkan keislaman

Lalu yang kedua ustadz Yusuf Martak, ulama yang dikenal sebagai ketua GNPF Ulama ini mendukung PKS dan perjuangan PKS yang dikenal nya sudah lama PKS menurut ustadz yusuf martak
PKS adalah partai yang jelas keberpihakannya kepada umat islam.

Yang ketiga adalah Kyai Haji Slamet Maarif, Kyai Haji Slamet Maarif adalah ketua Perhimpunan Alumni 212 atau PA 212 dan beliau menyatakan siap mendukung PKS karena PKS berkomitmen untuk memperjuangkan islam
dan siap berkomitmen bersama memperbesar partai islam di parlemen,

Yang keempat adalah Ustadz Abdul Somad, ulama kharismatik ini mengatakan dalam wawancara nya menganjurkan kepada umat untuk memilih PKS karena menurutnya PKS adalah salah satu dari 2 partai yang
menegakkan amar maruf nahi munkar di parlemen

Dan yang terakhir adalah HabibanaIB HRS, HRS dalam beberapa kesempatan menyatakan dukungan nya terhadap partai keadilan sejahtera dan pada senin 8 april 2019 lalu saat ketua Majelis Syuro PKS , Habib Salim Segaf al-jufri menemui di Mekkah , HRS mengatakan bahwa ia mendoakan agar PKS menang di Pemilu 2019 ini sehingga MPR DPR RI diisi oleh orang-orang soleh.

Nah itu dia gaes diantara sekian banyak nya para ulama dan habaib yang mendukung PKS yang bisa Bang DB infokan sementara ini

Jangan lupa klik di sini untuk subscribe PKSTV di youtube karena subscribe itu gratis

See you next time

Wassalamualaikum warrrahmatullahi wa barokatuh

Jakarta (27/03) — Diskusi dua arah menjadi ciri khas Wakil Ketua MPR RI Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid MA, saat menyampaikan sosialisasi empat Pilar MPR. Demikian pula saat politisi kelahiran Prambanan Jawa Tengah itu memberikan materi sosialisasi Empat Pilar, kerjasama MPR dengan Yayasan Berkah Mulia Indonesia di Aula Masjid Al Falah, jl. Mampang Prapatan I RT 05/06 Mampang Jakarta Selatan Senin (25/3), malam.

Pada kesempatan itu, Hidayat menanyakan peran ulama dalam menyelamatkan Pancasila dan NKRI. Berkali-kali para peserta mencoba menjawab tanya tersebut, tapi hingga peserta kelima tidak ada satupun yang bisa menjawab dengan sempurna, sampai akhirnya, Hidayat pun menjawab sendiri pertanyaan yang diajukannya.

Di hadapan Masyarakat Mampang dan sekitarnya, Hidayat antara lain mengatakan, dalam sejarahnya bangsa Indonesia sudah dua kali memproklamirkan kemerdekaan nya. Masing 17 Agustus 1945 dan 17 Agustus 1950. Pada 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dari penjajahan Belanda. Sedangkan pada 1950, proklamasi bangsa Indonesia, itu menandai kembalinya bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena sebelumnya, NKRI yang dihasilkan oleh proklamasi 17 Agustus 1945 sudah berubah menjadi Republik Indonesia Serikat.

“Ini adalah momentum yang tidak bisa dilupakan begitu saja olah bangsa Indonesia khususnya umat Islam. Karena kembalinya NKRI waktu itu menandai runtuhnya RIS. Kembalinya NKRI, itu diprakarsai oleh Moh. Natsir Ketua Fraksi Parta Masyumi,” ujar Hidayat.

Selain Natsir, kata Hidayat masih banyak perjuangan ulama yang dilakukan ulama untuk bangsa dan negara Indonesia. Seperti Resolusi Jihad yang dikumandangkan KH. Hasyim Asy’ari, serta H. Mutahar pencipta lagu 17 Agustus dan Syukur.

“Saat ini kita punya tanggung jawab meneruskan perjuangan para ulama. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah, ikut serta dalam pemilu, karena melalui pemilu kita dapat menentukan pemimpin kita dan juga masa depan bangsa,” kata Hidayat.

Karena itu Hidayat mendorong masyarakat untuk memanfaatkan pemilu dengan sebaik-baiknya. Jangan golput, dan pilihlah calon-calon terbaik, yang dikenali kualitasnya.

Sumber: tempo.com

Riau (05/03) — “Di Pundak PKS kami sangat berharap keterwakilan kami untuk menyelamatkan kebijakan yang berhubungan dengan umat”. Hal tersebut diungkapkan ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Yusuf Muhammad Martak di hotel Aryaduta Pekanbaru (2/02/2019).

Dalam pidatonya Yusuf Muhammad Martak mengatakan bahwa GNPF hanya sebuah ormas yang membutuhkan partner untuk menyampaikan aspirasi, yakni partai politik.

“Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan partai yang menolak Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Karena memang ada potensi pertentangan materi atau muatan RUU dengan Pancasila dan agama. Bahkan RUU ini berpotensi membuka ruang sikap permisif terhadap seks bebas dan kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT)”, ungkapnya.

Sebelumnya GNPF telah mengeluarkan fatwa mendukung pasangan Prabowo Sandi Nomor urut 02.

“Mohon dukungan dan mendo’akan kami, agar dapat terus mengawal hingga Pilpres. Kami juga berkomitmen, jika Prabowo – Sandi terpilih memimpin Indonesia, GNPF akan mengawalnya, agar kebijakannya pro rakyat”, lanjutnya.

Sumber: pks.id

“Ponpes adalah kekuatan umat dan kekuatan bangsa. Banyak pemimpin bangsa lahir dari pesantren-pesantren,” kata Ketua Majelis Syuro PKS Habib Salim Segaf Al-Jufri saat berkunjung ke Pondok Pesantren (PP) Sunan Drajat Lamongan. Jumat (22/2/2019).

Habib Salim datang didampingi Gubernur Jawa Barat dua periode Ahmad Heryawan (Kang Aher) dan Ketua DPW PKS Jatim Arif Hari Setiawan.

###

Pernyataan Habib Salim ini bukan sekedar pernyataan. Kalau diperhatikan dan dihitung-hitung, saat ini semakin banyak ustadz-ustadz di PKS yang mendirikan pesantren.

Kader PKS yang lulusan Ponpes Gontor, LIPIA dan Timur Tengah banyak yang terus bergerak kearah sana. Awalnya mendirikan institusi pendidikan SDIT, SMPIT dan sekarang mengembangkan pesantren di berbagai kota.

Disisi lain, kader PKS yang lulusan umum, yang dulunya tidak makan pondok pesantren, yang kadang dilecehkan karena “hanya” belajar keislaman di Rohis Sekolah, kini banyak yang mempesantrenkan anaknya.

Kalau di Tahun 80an, bapaknya lulusan Tebuireng, anaknya kuliah di STAN. Sekarang terbalik bapaknya lulusan Singapura, anaknya pesantren di Singaparna.

Efek positif lainnya adalah muncul destinasi-destinasi baru. Muncul kota-kota yang tadinya tidak dikenal sebagai daerah pesantren, kini menjadi lebih dikenal karena pesantren.

Sebutlah nama Kuningan, Subang atau Cilegon. Setiap akhir pekan, banyak warga Bekasi sini yang pergi kesana.

“Mau kemana?”
“Cilegon.”
“Ngapain?”
“Nengok anak pesantren”

Eh di Bekasi juga ada. Setu Kabupaten Bekasi dan Jatiasih serta Jatimakmur Pondokgede Kota Bekasi. Disana ada pesantren-pesantren modern yang ternyata tes masuknya ketat karena banyak peminat.

Pesantren-pesantren itu juga terbukti mengembangkan pariwisata daerah tersebut. Karena banyaknya orangtua santri yang datang, muncul pula penginapan dan pusat oleh-oleh.

Selain itu, keberadaan pesantren membawa efek positif dan mengangkat nama daerah karena santri-santrinya berprestasi di berbagai lomba. Dari urusan lomba mata pelajaran agama hingga sains.

Tentang Keberpihakan

Di Jawa Barat sendiri, Kang Aher selama sepuluh tahun menjabat menaruh perhatian besar pada pengembangan pesantren. Alokasi dana RKB (Ruang Kelas Baru) banyak mengalir ke pesantren, baik itu pesantren yang dikelola NU, Muhammadiyah atau PERSIS.

Mantap deh, semoga makin berkah dan Indonesia jauh lebih baik. Pesantren adalah ciri khas pendidikan umat Islam di Indonesia. Kalau dikelola modern dan profesional tentu akan lebih baik lagi. Seperti kata Habib Salim, semoga kedepannya terus bermunculan calon pemimpin bangsa dari pesantren.

Enjang Anwar Sanusi

Sumber: Facebook Anjang Anwar Sanusi

Umat itu bagai pendorong mobil mogok. Dibutuhkan saat pemilu, kemudian ditinggal kabur. Kita semua sepakat dengan ini.

Fenomena ini, menurut saya karena salah kita sendiri. Kita kerap mendengar pernyataan ini setiap jelang pemilu. Biasanya terucap dari tokoh politik dan juga ulama. Kurang lebih begini bunyinya.

“Kita berikan suara umat kepada partai-partai Islam dalam pemilu. ”

“Pastikan suara umat hanya untuk partai Islam. ”

“Ada banyak partai Islam. Kita dukung dan berikan suara umat kepada mereka.”

Ini adalah jargon-jargon yang tak tepat. Juga tidak lagi relevan.

Situasi politik dan kondisi umat hari ini berbeda jauh dengan suasana jelang pemilu-pemilu sebelumnya. Bahkan termasuk pesta demokrasi 1955. Saat ini, jelang pemilu 2019, atmosfer ideologisnya begitu begitu tebal.

Kesadaran politik umat kian meninggi. Mereka terkonsolidasi dengan sangat baik yang tercermin dari Aksi 212 dan bentuk perlawanan lainnya di media sosial. Semua ini bermula dari kasus penistaan agama oleh Ahok pada September 2016 silam.

Political awareness umat ini semakin meletup dengan sikap antagonistik pemerintah kepada umat. Ditandai dengan beragam ketidakadilan penegakan hukum dan kampanye yang menghadapkan umat vis a vis Pancasila. Islam distigmatisasi anti Pancasila, anti NKRI, Radikal, dan sebagainya.

Juga produk kebijakan dan rancangan undang-undang yang menyudutkan umat. Perpu Pembubaran Ormas Islam hingga RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Berbagai fakta inilah yang membuat umat butuh hadirnya partai Islam yang kuat dan besar. Partai Islam yang bisa dipercaya membawa aspirasi umat dan memperjuangkan nya. Karena umat dan ulama tak bisa terus bergerak di jalanan dan aksi di Lapangan Monas. Harus bersinergi dengan partai Islam di parlemen.

Dan partai Islam seperti itu tak banyak. Bahkan bisa dibilang hanya ada satu. Yakni PKS. Jejak rekam sejak kasus penistaan agama, Aksi 212, Pilkada DKI dan Jabar hingga pilpres 2019 jadi bukti tak terbantahkan konsistensi partai dakwah ini bersama umat. Belum lagi perjuangannya menolak RUU Pornografi, Perpu Ormas dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

“PKS itu jelas tidak pernah abu-abu terhadap GNPF dari sejak dilakukannya aksi jalanan, dari saat awal kita menekan Bareskrim, hingga aksi 411 dan 212. PKS jelas ikut kontribusi, terlibat, dan tidak abu-abu,” ujar Ketua GNPF Ulama Ustadz Yusuf Martak.

Pada titik inilah pernyataan-pernyataan lama agar umat menyalurkan suaranya kepada partai-partai Islam yang ada tak lagi relevan. Fokus pada satu partai. Besarkan dan kuatkan. Sehingga umat tak lagi sekadar pendorong mobil mogok.

Erwyn Kurniawan
Presiden Reli
Sumber: blog.pks.id

Medan (14/02) — Jajaran pengurus DPW PKS Sumatera Utara melakukan kunjungan ke Kantor MUI Sumut di Medin, Rabu (13/02/2019)) kemarin.

Rombongan yang dipimpin langsung oleh Ketua DPW PKS Sumut, Hariyanto mendapatkan sambutan baik dari Ketua MUI Sumatera Utara, Abdullah Syah.

Abdullah menyampaikan saat ini memang tidak ada lagi partai politik yang benar-benar mewakili suara umat, selain PKS.

“Harapan umat saat ini ya tinggal PKS,” ujarnya.

Dia juga berharap, PKS akan terus istikamah dalam mengawal kepentingan umat Islam. Guru Besar Universitas Islam Negeri Sumatera Utara ini mengibaratkan PKS seperti Partai Masyumi pada masanya.

“PKS harus maju, walupun tanpa diminta. Khususnya melakukan advokasi ketika ada ulama atau tokoh umat yang didzalimi,” harapnya.

Ulama kelahiran Tanjung Pura, Kabupaten Langkat ini juga turut mendoakan kemenangan PKS agar dapat terus memperjuangkan kepentingan ulama.

Seperti yang kita ketahui bersama, selain mengusung program penghapusan pajak sepeda motor dan pemberlakuan SIM seumur hidup, PKS juga akan memperjuangkan Undang-undang Perlindungan Ulama, Tokoh Agama dan Simbol Agama.

Turut hadir dalam majelis silaturahim ini Ketua MPW PKS Sumut, Salman Alfarisi, Sekretaris Umum DPW, Irvantra Padang, Ketua Bidang Pembinaan Umat DPW PKS Sumut, Ahmad Darwis dan Sekretaris Bidang Humas, Syahrial Affandi.

Sumber: pks.id

Jakarta (14/02) — Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212, Slamet Ma’rif tegaskan siap mengawal dan mendukung penuh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai partai Islam. Hal ini disampaikan oleh Slamet Ma’arif selepas pertemuan antara PA 212, GNPF Ulama dan pimpinan PKS, Kamis (14/02/2019) di Kantor DPP PKS.

“Dengan kawan-kawan PKS InsyaAllah berkomitmen bersama untuk membangun perjuangan Islam dengan membesarkan partai Islam. Kita akan memberikan dukungan penuh untuk Partai Keadilan Sejahtera,” tegas Slamet.

Sebagai bentuk kesungguhan PA 212 dalam mendukung partai dakwah ini, ia menyatakan siapa bersinergi dengan organisasi masyakat lainnya untuk mememangkan dan menguatkan PKS di Parlemen.

“InsyaAllah GNPF Ulama dan PA 212 akan bersinergi untuk bagaimana kita bisa berjuang bersama-sama demi Islam. Salah satunya adalah dengan memperbesar partai Islam agar nanti di Parlemen bisa kuat,” katanya.

Sebagai penutup, Slamet Ma’arif juga berharap semua pihak dapat bersinergi tidak saja memenangkan PKS namun juga mendukung calon Presiden dan Wakil Presiden yang merupakan rekomendasi Ijtima Ulama, Prabowo-Sandi.

“Tentunya kita juga akan mengawal memenangkan Presiden pilihan kita semua. Kita berharap eksekutif dan legislatif harus kuat, insyaAllah kita akan dukung PKS,” tutupnya.

Sumber: pks.id

Jakarta (14/02) — Rancangan Undang-Undang Perlindungan Ulama, Tokoh Agama dan Simbol Agama yang dicanangkan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendapatkan apresiasi dari Ketua GNPF Ulama, Yusuf Martak, Kamis (14/02/2019), Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

“Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama dan PA 212 dan FPInya insyaAllah sangat tertarik untuk menjalin kerjasama lebih dalam bersama PKS karena keberpihakan PKS yang jelas kepada umat melalui RUU perlindungan Ulama ini, ini bagi kami menjadi satu nilai yang sangat penting,” papar Yusuf.

Menurutnya, PKS memiliki keberpihakan yang jelas dan konsisten kepada kepentingan umat erta memiliki tujuan yang jelas sebagai partai Islam.

“Sebagai partai Islam, PKS memiliki keberpihakan yang jelas dan yang lebih penting PKS memiliki tujuan jangka panjang yang baik,” katanya.

Oleh karenanya, Yusuf menilai PKS harus mendapatkan dukungan yang penuh dari umat, termasuk GNPF Ulama.

“Maka untuk memperbesar partai Islam ini di Indonesia, kami (GNPF Ulama) akan mendukung kemenangan partai Islam baik di eksekutif, legislatif dan bahkan yudikatif. Memang harus lebih serius menghadapai waktu yang mungkin sudah mendekati kurang dari enam puluh hari ini,” ujar dia.

Yusuf Martak bersama jajaran GNPF ulama dan Pengurus Persaudaraan Alumni 212 bersilaturahim dengan jajaran Dewan Pimpinan Tingkat Pusat (DPTP) PKS yang dipimpin Ketua Majelis Syuro PKS Habib Salim Segaf Aljufri, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid dan Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman.

Sumber: pks.id

Jakarta (14/02) — Jajaran pengurus Persaudaraan Alumni 212 dan GNPF Ulama datangi kantor DPP PKS untuk memberikan dukungan pada partai dakwah ini untuk berkontestasi di Pemilu mendatang, Kamis (14/1/2019).

Menanggapi hal tersebut Presiden PKS, Mohamad Sohibul Iman mengapresiasi dukungan yang diberikan oleh GNPF Ulama dan PA 212. Sohibul mengatakan bahwa PKS akan bekerja sebaik mungkin guna menjaga kepercayaan umat tersebut.

“Kami sangat senang dan berterima kasih kepada pimpinan GNPF Ulama dan PA 212 atas dukungannya. Kita memiliki platform perjuangan yang sama, untuk kepentingan umat Islam yang mayoritas,” tutur Sohibul.

Menurut Sohibul dukungan umat kepada partai dakwah ini akan menjadi pelecut bagi PKS untuk bekerja lebih baik lagi sebagai representasi partai Islam di Indonesia.

“Kita akan berkerja dengan sebaik mungkin, untuk mendukung kepentingan umat Islam. Kita juga harus berjuang secara profesional sebagai mayoritas,” imbuhnya.

Sohibul juga meyakini, dengan adanya dukungan tersebut akan mampu mengatarkan kemenangan partai umat ini pada Pileg mendatang.

“Pengalaman DKI kemarin, kita meyakini sekalipun tidak berada dalam kemewahan logistik tapi ketika umat, ormas dan Parpol Islam bersatu maka kememangan itu akan terjadi,” tutupnya.

Sumber: pks.id

Bandung — Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman bersama jajaran sambangi Kantor Pusat Persatuan Islam (Persis) di Jl. Perintis Kemerdekaan, Bandung, Jawa Barat, Rabu (6/02/2019).

Kedatang Presiden PKS bersama jajaran diantaranya Sekretaris Majelis Syuro Untung Wahono, Ketua Wilda Banjabar Tate Komarudin, Ketua umum DPW PKS Jawa Barat Ahmad Syaikhu disambut hangat oleh Ketua Umum Persis K. Aceng Zakaria beserta jajaran.

Dalam kunjungan ini Presiden PKS mensosialisasikan janji kampanye PKS diantaranya Rancangan Undang-Undang Perlindungan Ulama, Tokoh Agama dan Simbol Agama. Kang Iman juga mengajak Persis bersama PKS menolak RUUP-KS (Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual).

“Pertama-tama kami dari PKS mengucapkan terimakasih kepada KH. Aceng Zakaria beserta jajaran yang telah menerima kehadiran kami. Adapun tujuan kami adalah untuk mempererat hubungan Silaturahim antara PKS dan Ormas Islam. Selanjutnya kami mengajak Persis selaku Ormas Islam yang kuat mau membersamai kami untuk menolak RUUP-KS karena jelas sekali Rancangan Undang-Undang ini sangat merugikan umat Islam khususnya di Indonesia,” jelas Kang Iman dihadapan pengurus Persis Pusat.

Ketua Umum Persis KH Aceng menyambut baik silaturahim tersebut. Ia berharap jalinan ukhuwah antara Ormas Islam dan Partai Islam bisa semakin kuat.

“Pertama kita mempererat ukhuwah dan silaturahim antara Persis dengan PKS, yang keduanya juga tentu untuk dapat mengkomunikasikan masalah-masalah keumatan antara PKS dengan kami,” jelas Kiai Aceng.

Sumber: pks.id