Jakarta (09/04) — Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menggelar nonton bareng film “8 Stories” di CGV Jakarta Pusat, Senin (08/04/2019) semalam.

Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan PKS dan puluhan anak muda yang mayoritas berasal dari Jadebek. Ketua Bidang Humas DPP PKS, Ledia Hanifa juga turut mengapresiasi film perdana yang banyak melibatkan generasi milenial ini.

“Sebenarnya ini suatu terobosan baru ya untuk partai politik, bukan karena saya orang parpol ya. Tapi jarang ada partai politik secara khusus melakukan kegiatan seperti ini, produksi filmnya sendiri, cari talentnya sendiri, menulis naskahnya sendiri, luar biasa, semakin penasaran mau liaht filmnya,” kata Ledia.

Menurut caleg DPR RI Dapil Jawa Barat I ini, lahirnya film “8 Stories” ini berhasil merubah citra partai politik yang selama ini dicap seram dan kaku. “Jadi mereka (penonton, red) melihat oh parpol ternyata engga serem-serem amat, partai juga bisa menyenangkan dengan membuat film yang melibatkan anak-anak muda,” tambahnya.

Setelah dilakukan nonton bareng pada malam kemarin, film debutan sutradara Zul Ardhia ini juga akan diputar di seluruh DPW PKS se Indonesia.

Sumber: pks.id

Assalamualaikum gaes
Kamu harus tau ni
Jelang pemilu 17 April ni wajib nonton ini dulu
Alhamduillah banyak dukungan dari ulama dan habaib kepada PKS
Siapa aja yuk kita simak

Pertama adalah Ustadz Haikal Hassan, ustadz yang biasa dipanggil Babe Haikal ini mendukung PKS gaes
Kata Babe PKS tidak pernah abu-abu, sejak awal berdiri nya PKS memperjuangkan keislaman

Lalu yang kedua ustadz Yusuf Martak, ulama yang dikenal sebagai ketua GNPF Ulama ini mendukung PKS dan perjuangan PKS yang dikenal nya sudah lama PKS menurut ustadz yusuf martak
PKS adalah partai yang jelas keberpihakannya kepada umat islam.

Yang ketiga adalah Kyai Haji Slamet Maarif, Kyai Haji Slamet Maarif adalah ketua Perhimpunan Alumni 212 atau PA 212 dan beliau menyatakan siap mendukung PKS karena PKS berkomitmen untuk memperjuangkan islam
dan siap berkomitmen bersama memperbesar partai islam di parlemen,

Yang keempat adalah Ustadz Abdul Somad, ulama kharismatik ini mengatakan dalam wawancara nya menganjurkan kepada umat untuk memilih PKS karena menurutnya PKS adalah salah satu dari 2 partai yang
menegakkan amar maruf nahi munkar di parlemen

Dan yang terakhir adalah HabibanaIB HRS, HRS dalam beberapa kesempatan menyatakan dukungan nya terhadap partai keadilan sejahtera dan pada senin 8 april 2019 lalu saat ketua Majelis Syuro PKS , Habib Salim Segaf al-jufri menemui di Mekkah , HRS mengatakan bahwa ia mendoakan agar PKS menang di Pemilu 2019 ini sehingga MPR DPR RI diisi oleh orang-orang soleh.

Nah itu dia gaes diantara sekian banyak nya para ulama dan habaib yang mendukung PKS yang bisa Bang DB infokan sementara ini

Jangan lupa klik di sini untuk subscribe PKSTV di youtube karena subscribe itu gratis

See you next time

Wassalamualaikum warrrahmatullahi wa barokatuh

Tadi malam, PKS membuat kejutan. Saat situasi politik memanas dan diksi-diksi kasar memadati ruang publik, partai dakwah ini justru kebalikannya. Menghadirkan film untuk anak-anak milenial yang menembus batas imaji.

Judulnya 8 Stories. Nama-nama pemainnya: Kea, Adi, Dilan, Eja, Tera. Jika disambung menjadi Keadilan Sejahtera. Terbagi dalam delapan scene. Berisikan kisah-kisah generasi milenial yang penuh kejutan dan inspiratif.

Ada tentang fenomena anak yang bermimpi jadi Youtuber, orangtua yang tak pernah mengambil rapot anaknya hingga hal sepele seperti colokan untuk mencharge gadget.

Tentu saja tak ketinggalan ada bumbu asmara. Siapa lagi kalau bukan antara Kea dan Dilan. Namanya juga anak muda hehe. Tapi jangan berharap seperti film romantis kebanyakan. Tidak ada adegan ciuman, pegangan tangan dan berpelukan.

Justru disinilah kelebihan film ini. Tetap mampu menghadirkan ‘rasa itu’  tanpa harus terseret adegan mainstream kisah asmara anak muda.

Di luar itu, film 8 Stories yang diproduseri Ahmad Mabruri ini bisa jadi tak pernah terbayangkan dalam benak kader dan publik pada 21 tahun silam, saat partai ini dideklarasikan. Bikin film? Lah wong masuk bioskop saja masih sering jadi perdebatan.

Kecuali itu, adegan dan dialog yang tersaji juga minim simbol-simbol PKS. Kecuali jilbab dan angka 8 ya.

Ada Tera yang tak berjilbab. Dilan dan Adi yang tak berjanggut. Dan ini: tiada panggilan abi dan umi kepada kedua orangtua. Padahal dulu saat partai ini baru berdiri kerap disebut Partai Abi Umi.

Jika boleh saya menyimpulkan, film ini menembus batas imaji. Publik selama ini kadung membayangkan PKS dengan identifikasi tertentu. Tapi dalam film ini, hampir tak terlihat.

Disebut menembus batas imaji juga tersebab PKS jadi sebuah anomali. Kala publik dicekoki diksi-diksi kampanye semacam ‘goblok’, ‘lawan’, ‘sontoloyo’, sehingga persepsi terhadap pemilu jadi menyeramkan, tapi partai dakwah ini menawarkan keceriaan. Dan sejauh ini menjadi satu-satunya partai yang memproduksi film secara serius untuk anak-anak milenial.

Bravo PKS

Erwyn Kurniawan
Presiden Reli

Sumber: blog.pks.id

Jakarta (27/03) — Diskusi dua arah menjadi ciri khas Wakil Ketua MPR RI Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid MA, saat menyampaikan sosialisasi empat Pilar MPR. Demikian pula saat politisi kelahiran Prambanan Jawa Tengah itu memberikan materi sosialisasi Empat Pilar, kerjasama MPR dengan Yayasan Berkah Mulia Indonesia di Aula Masjid Al Falah, jl. Mampang Prapatan I RT 05/06 Mampang Jakarta Selatan Senin (25/3), malam.

Pada kesempatan itu, Hidayat menanyakan peran ulama dalam menyelamatkan Pancasila dan NKRI. Berkali-kali para peserta mencoba menjawab tanya tersebut, tapi hingga peserta kelima tidak ada satupun yang bisa menjawab dengan sempurna, sampai akhirnya, Hidayat pun menjawab sendiri pertanyaan yang diajukannya.

Di hadapan Masyarakat Mampang dan sekitarnya, Hidayat antara lain mengatakan, dalam sejarahnya bangsa Indonesia sudah dua kali memproklamirkan kemerdekaan nya. Masing 17 Agustus 1945 dan 17 Agustus 1950. Pada 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dari penjajahan Belanda. Sedangkan pada 1950, proklamasi bangsa Indonesia, itu menandai kembalinya bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena sebelumnya, NKRI yang dihasilkan oleh proklamasi 17 Agustus 1945 sudah berubah menjadi Republik Indonesia Serikat.

“Ini adalah momentum yang tidak bisa dilupakan begitu saja olah bangsa Indonesia khususnya umat Islam. Karena kembalinya NKRI waktu itu menandai runtuhnya RIS. Kembalinya NKRI, itu diprakarsai oleh Moh. Natsir Ketua Fraksi Parta Masyumi,” ujar Hidayat.

Selain Natsir, kata Hidayat masih banyak perjuangan ulama yang dilakukan ulama untuk bangsa dan negara Indonesia. Seperti Resolusi Jihad yang dikumandangkan KH. Hasyim Asy’ari, serta H. Mutahar pencipta lagu 17 Agustus dan Syukur.

“Saat ini kita punya tanggung jawab meneruskan perjuangan para ulama. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah, ikut serta dalam pemilu, karena melalui pemilu kita dapat menentukan pemimpin kita dan juga masa depan bangsa,” kata Hidayat.

Karena itu Hidayat mendorong masyarakat untuk memanfaatkan pemilu dengan sebaik-baiknya. Jangan golput, dan pilihlah calon-calon terbaik, yang dikenali kualitasnya.

Sumber: tempo.com

Beda generasi beda gaya. Tahun 90an akhir hingga 2000an awal, anak muda terutama mahasiswa hidup dalam suasana heroik. Aspal panas adalah sahabat yang harus disapa rutin dengan yel-yel “Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia!!” dan berbagai bentuk teriakan reformasi.

Waktu berlalu. Dunia maya menjangkau berbagai kalangan. Bersamaan dengan jejaring sosial yang membuat internet menyediakan kehidupan tersendiri. mIRC, Friendster, Multiply, hi5, adalah platform pendahulu yang telah berlalu, yang kemudian digantikan oleh facebook, twitter, instagram, whatsapp, telegram, line, dll seperti sekarang.

Maka dunia anak muda saat ini adalah dunia konten kreatif. Yel yel kekinian adalah, “Hi guys, welcome back to my youtube channel!”. Kebanggaan bukan lagi ada pada panggung orasi, tetapi pada jumlah viralnya sebuah konten dan jumlah follower/friend/subscriber.

Hanya saja fenomena ini bukan untuk ditertawakan. Bagaimanapun juga, mereka dengan karakter yang begitu adalah market bagi pebisnis. Termasuk bagi sebuah entitas politik yang membutuhkan suara sebagai syarat kesuksesan. Anak muda yang dijuluki millenial harus didekati, dibuat terpesona, sehingga mau mencoblos logo partai atau foto sepasang kandidat di sebuah kertas suara.

Bagaimana dengan PKS? Apakah memilih jalan sebagai partai dakwah bisa memikat para millenial? Partai ini memang didirikan dan dibesarkan oleh para pemuda yang ikut berjuang di zaman reformasi. Sempat diberi atribut sebagai partainya anak muda. Tapi bagaimana dengan sekarang?

Kalau kata kuncinya kreatifitas, PKS sudah memiliki beberapa ikhtiar. Ada saluran-saluran yang mewadahi bakat anak-anak muda jaman now. Tetapi sebelum membahas itu, ada satu kunci juga yang membuat PKS cocok untuk anak muda berlabuh. Yaitu fenomena hijrah.

Internet telah membuka jalan bagi publikasi, baik untuk kemungkaran maupun kebaikan. Tak sedikit yang memanfaatkannya untuk berdakwah. Sehingga gelombang orang-orang yang hijrah – istilah untuk memperbaiki hidup agar lebih dekat dengan Islam – makin besar. Fenomena ini menjangkit juga di kalangan millenialis.

Pada pendekatan tersebut, PKS sudah sangat cocok bagi anak-anak hijrah. Kader partai berlambang bulan sabit kembar ini diwajibkan untuk hadir dalam halaqoh tarbawiyah sepekan sekali. Acara itu bertujuan untuk membentuk kepribadian muslim yang berintegritas dan menjalankan Islam secara syamil wa mutakamil (lengkap dan menyeluruh) atau kaffah.

Halaqoh tarbawiyah telah mengubah kehidupan ribuan kader PKS ke arah yang lebih baik. Tiap kader punya kisah sendiri yang haru biru dengan agenda ini. Maka hijrah adalah ruh PKS selama acara pekanan itu masih dipertahankan.

Anak muda yang hijrah lalu terbersit keinginan untuk berbuat lebih banyak untuk masyarakat, tepat bila memilih PKS sebagai media perjuangannya. Karena politik sejatinya mengurus masyarakat banyak. Dan penting pula merebut kekuasaan dari kaum sekuler. Tapi bagaimana bila tak suka politik?

PKS bisa disebut partai dengan jiwa sosial paling tinggi. Hampir di setiap bencana besar yang terjadi di Nusantara ini kadernya turun membantu para korban. Berkiprah bersama PKS tak cuma menjadi politisi. Malah kerelawanan sosial lebih dominan. Maka tak masalah. Selama ada niat berkontribusi besar, PKS bisa menjadi sarananya.

Kembali ke urusan konten kreatif, di bawah Humas PKS terdapat lima komunitas. Yaitu PKSTV, PKSFoto, PKS Art, Relawan Literasi, dan Sekolah Digital.

Sesuai namanya, PKSTV adalah komunitas yang mewadahi konten videografi. PKSFoto menyalurkan bakat millenialis yang hobi fotografi. PKS Art jadi ajang anak muda jaman now mengolah design grafis yang ciamik. Relawan Literasi adalah rumah para penulis berbaper ria atau menumpahkan gagasannya. Dan Sekolah Digital adalah kumpulan warganet yang senang dengan dunia media sosial.

Hubungan PKS dengan anggota komunitas itu adalah simbiosis mutualisme. Kehumasan partai mendapat manfaat dari konten publikasi yang mereka buat, dan anak-anak muda itu pun mendapat tambahan ilmu yang berharga dalam bidang yang mereka minati. Tak cuma konten serius berupa hardnews, konten lucu-lucuan juga mendapat tempat.

Bercita-cita menjadi konten kreator? Coba bergabung saja dengan PKS!

Di luar komunitas konten tadi, PKS pun punya wadah bernama PKS Muda. Perkumpulan ini aktif mengadakan event-event yang mengasah gagasan anak-anak muda, baik berupa kegiatan diskusi atau acara seru-seruan yang tak meninggalkan bobot intelektual.

Beberapa orang dari PKS Muda ini sudah sering tampil di televisi. Sebut saja nama Pipin Sopian, Muhammad Khalid, atau Arya Sandhiyuda. Di setiap talkshow, mereka mampu mengimbangi argumentasi pembicara lain yang lebih senior.

PKS juga memiliki wadah Garuda Keadilan (GK). Memang komunitas ini dikhususkan bagi anak-anak kader yang minimal sudah menginjak remaja. Di dalam GK, para millenialis bisa membuntuti jejak heroik orang tuanya yang telah berjuang lebih dulu membesarkan partai. Meski dengan jiwa mereka yang penuh kreatifitas. GK ini bisa menjadi magnet bagi anak muda lain untuk bergabung bersama PKS.

Di luar wadah-wadah itu, PKS juga memperkenalkan maskot-maskot muda yang menjadi simbol generasi millenial. Ada Kea, Adi, Dilan, Eja, Tera. Kelima nama itu diambil dari “Keadilan Sejahtera”. Dibuatkan kartunnya serta diberi karakter masing-masing, mereka menghiasi grafis karya PKSArt serta menjadi tokoh cerpen karya Relawan Literasi. Terakhir, sedang dibuat film untuk para maskot tersebut.

Jadi, PKS bisa menjadi rumah bagi anak muda. Yang ingin hijrah, yang ingin mengasah kreatifitas, yang senang dengan diskusi yang berbobot, ada salurannya. PKS pun berdialog dengan konstituennya menggunakan maskot anak muda.

Ikhtiar sudah ada, tinggal dioptimalisasi dan dikembangkan terus agar berbuah elektabilitas.

PKS adalah tawaran bagi anak muda yang tak cukup dipikat dengan iklan jayus partai politik yang mengaku millenialis padahal dicukongi kolonialis.

Udah? Udah?

Zico Alviandri

Kebangetan banget kalau PKS gak punya program buat buruh, kebangetan banget kalau PKS gak mikirin nasib kalangan pekerja. Kenapa saya tulis kebangetan banget?

Karena..

PKS itu bisa dibilang Partai Karyawan Sejati. Di kota-kota besar dan kantong industri, kader dan pengurus PKS banyak banget yang berprofesi sebagai buruh pabrik atau karyawan perusahaan.

Dulu saya pernah jadi pengurus PKS di Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi. Saat itu, hampir semua pengurusnya adalah pekerja pabrik. Hanya ada 2 orang yang berprofesi sebagai guru sekolah swasta.

Ada yang kerja di AHAEM, K*yab@, FSC*, SEIW*, D*NSO, Igepe, Dll. Jadi kalau rapat partai kadang yang dibahas masalah perburuhan. Dari kenaikan UMK hingga bonus akhir tahun.

Kader-kader PKS dari kalangan buruh ini pekerja keras dan tahan banting. Ada yang pulang shift malam, pagi-pagi langsung ikut aksi bela Palestina atau turun membantu korban banjir. Ada juga yang merelakan jam lemburnya berkurang dan lebih memilih ikut kampanye.

Presiden FSPMI-KSPI, Said Iqbal pernah menjadi caleg PKS pada Pemilu 2009. Karena hal itulah hingga sekarang, tokoh buruh Indonesia ini kerap dituding sebagai kader PKS.

Kedekatan PKS dengan kalangan buruh juga terlihat di parlemen. Adalah Anshori Siregar, Anggota Fraksi PKS asal Medan yang paling sigap menerima kehadiran demonstrasi buruh.

Kabupaten Bekasi sebagai lumbung industri juga pernah mencatatkan UMK tertinggi saat dulu dipimpin bupati dari PKS, Bang Saadudin.

Nah! Dari fakta-fakta diatas, kebangetan kalau PKS di Pemilu 2019 ini gak mikirin buruh. Alhamdulillah ternyata PKS tetap mikirin buruh. Bahkan sekarang lebih kaya dengan ide-ide segar.

Setelah meluncurkan program kampanye penghapusan pajak motor cc kecil dan pengurusan SIM sekali seumur hidup, kini muncul program baru: Penghasilan Dibawah 8 Juta Bebas Pajak penghasilan.

Program ini super keren. Saat ini, yang terbebas dari PPh baru yang penghasilannya dibawah 4,5 juta.

Jika program ini terlaksana, yang untung ketiga belah pihak. Pekerja, pengusaha dan pemerintah.

Pekerja akan mendapatkan dana tambahan, yang tadinya untuk bayar pajak bisa untuk bayar yang lain-lain. Sektor riil akan meningkat. Tenang aja, dananya kagak bakalan lari keluar negeri. Paling dipakai belanja, cicilan rumah/motor atau bayar biaya sekolah.

Pengusaha juga diuntungkan, apalagi perusahaan yang membayarkan PPh karyawannya. Jika dihapus maka ada cost saving dan bisa digunakan untuk kebutuhan lainnya.

Negara memang akan mengalami penurunan pemasukan dari PPh karyawan, tetapi nanti akan mendapatkan tambahan dari sektor lainnya karena uangnya berputar di masyarakat dan menggerakan pasar.

Terimakasih buat pimpinan-pimpinan PKS yang punya ide-ide segar untuk kami, kalangan pekerja. Semoga kita bisa sukses bersama di 2019.

Enjang Anwar Sanusi

Riau (05/03) — “Di Pundak PKS kami sangat berharap keterwakilan kami untuk menyelamatkan kebijakan yang berhubungan dengan umat”. Hal tersebut diungkapkan ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Yusuf Muhammad Martak di hotel Aryaduta Pekanbaru (2/02/2019).

Dalam pidatonya Yusuf Muhammad Martak mengatakan bahwa GNPF hanya sebuah ormas yang membutuhkan partner untuk menyampaikan aspirasi, yakni partai politik.

“Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan partai yang menolak Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Karena memang ada potensi pertentangan materi atau muatan RUU dengan Pancasila dan agama. Bahkan RUU ini berpotensi membuka ruang sikap permisif terhadap seks bebas dan kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT)”, ungkapnya.

Sebelumnya GNPF telah mengeluarkan fatwa mendukung pasangan Prabowo Sandi Nomor urut 02.

“Mohon dukungan dan mendo’akan kami, agar dapat terus mengawal hingga Pilpres. Kami juga berkomitmen, jika Prabowo – Sandi terpilih memimpin Indonesia, GNPF akan mengawalnya, agar kebijakannya pro rakyat”, lanjutnya.

Sumber: pks.id

“Ponpes adalah kekuatan umat dan kekuatan bangsa. Banyak pemimpin bangsa lahir dari pesantren-pesantren,” kata Ketua Majelis Syuro PKS Habib Salim Segaf Al-Jufri saat berkunjung ke Pondok Pesantren (PP) Sunan Drajat Lamongan. Jumat (22/2/2019).

Habib Salim datang didampingi Gubernur Jawa Barat dua periode Ahmad Heryawan (Kang Aher) dan Ketua DPW PKS Jatim Arif Hari Setiawan.

###

Pernyataan Habib Salim ini bukan sekedar pernyataan. Kalau diperhatikan dan dihitung-hitung, saat ini semakin banyak ustadz-ustadz di PKS yang mendirikan pesantren.

Kader PKS yang lulusan Ponpes Gontor, LIPIA dan Timur Tengah banyak yang terus bergerak kearah sana. Awalnya mendirikan institusi pendidikan SDIT, SMPIT dan sekarang mengembangkan pesantren di berbagai kota.

Disisi lain, kader PKS yang lulusan umum, yang dulunya tidak makan pondok pesantren, yang kadang dilecehkan karena “hanya” belajar keislaman di Rohis Sekolah, kini banyak yang mempesantrenkan anaknya.

Kalau di Tahun 80an, bapaknya lulusan Tebuireng, anaknya kuliah di STAN. Sekarang terbalik bapaknya lulusan Singapura, anaknya pesantren di Singaparna.

Efek positif lainnya adalah muncul destinasi-destinasi baru. Muncul kota-kota yang tadinya tidak dikenal sebagai daerah pesantren, kini menjadi lebih dikenal karena pesantren.

Sebutlah nama Kuningan, Subang atau Cilegon. Setiap akhir pekan, banyak warga Bekasi sini yang pergi kesana.

“Mau kemana?”
“Cilegon.”
“Ngapain?”
“Nengok anak pesantren”

Eh di Bekasi juga ada. Setu Kabupaten Bekasi dan Jatiasih serta Jatimakmur Pondokgede Kota Bekasi. Disana ada pesantren-pesantren modern yang ternyata tes masuknya ketat karena banyak peminat.

Pesantren-pesantren itu juga terbukti mengembangkan pariwisata daerah tersebut. Karena banyaknya orangtua santri yang datang, muncul pula penginapan dan pusat oleh-oleh.

Selain itu, keberadaan pesantren membawa efek positif dan mengangkat nama daerah karena santri-santrinya berprestasi di berbagai lomba. Dari urusan lomba mata pelajaran agama hingga sains.

Tentang Keberpihakan

Di Jawa Barat sendiri, Kang Aher selama sepuluh tahun menjabat menaruh perhatian besar pada pengembangan pesantren. Alokasi dana RKB (Ruang Kelas Baru) banyak mengalir ke pesantren, baik itu pesantren yang dikelola NU, Muhammadiyah atau PERSIS.

Mantap deh, semoga makin berkah dan Indonesia jauh lebih baik. Pesantren adalah ciri khas pendidikan umat Islam di Indonesia. Kalau dikelola modern dan profesional tentu akan lebih baik lagi. Seperti kata Habib Salim, semoga kedepannya terus bermunculan calon pemimpin bangsa dari pesantren.

Enjang Anwar Sanusi

Sumber: Facebook Anjang Anwar Sanusi

Umat itu bagai pendorong mobil mogok. Dibutuhkan saat pemilu, kemudian ditinggal kabur. Kita semua sepakat dengan ini.

Fenomena ini, menurut saya karena salah kita sendiri. Kita kerap mendengar pernyataan ini setiap jelang pemilu. Biasanya terucap dari tokoh politik dan juga ulama. Kurang lebih begini bunyinya.

“Kita berikan suara umat kepada partai-partai Islam dalam pemilu. ”

“Pastikan suara umat hanya untuk partai Islam. ”

“Ada banyak partai Islam. Kita dukung dan berikan suara umat kepada mereka.”

Ini adalah jargon-jargon yang tak tepat. Juga tidak lagi relevan.

Situasi politik dan kondisi umat hari ini berbeda jauh dengan suasana jelang pemilu-pemilu sebelumnya. Bahkan termasuk pesta demokrasi 1955. Saat ini, jelang pemilu 2019, atmosfer ideologisnya begitu begitu tebal.

Kesadaran politik umat kian meninggi. Mereka terkonsolidasi dengan sangat baik yang tercermin dari Aksi 212 dan bentuk perlawanan lainnya di media sosial. Semua ini bermula dari kasus penistaan agama oleh Ahok pada September 2016 silam.

Political awareness umat ini semakin meletup dengan sikap antagonistik pemerintah kepada umat. Ditandai dengan beragam ketidakadilan penegakan hukum dan kampanye yang menghadapkan umat vis a vis Pancasila. Islam distigmatisasi anti Pancasila, anti NKRI, Radikal, dan sebagainya.

Juga produk kebijakan dan rancangan undang-undang yang menyudutkan umat. Perpu Pembubaran Ormas Islam hingga RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Berbagai fakta inilah yang membuat umat butuh hadirnya partai Islam yang kuat dan besar. Partai Islam yang bisa dipercaya membawa aspirasi umat dan memperjuangkan nya. Karena umat dan ulama tak bisa terus bergerak di jalanan dan aksi di Lapangan Monas. Harus bersinergi dengan partai Islam di parlemen.

Dan partai Islam seperti itu tak banyak. Bahkan bisa dibilang hanya ada satu. Yakni PKS. Jejak rekam sejak kasus penistaan agama, Aksi 212, Pilkada DKI dan Jabar hingga pilpres 2019 jadi bukti tak terbantahkan konsistensi partai dakwah ini bersama umat. Belum lagi perjuangannya menolak RUU Pornografi, Perpu Ormas dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

“PKS itu jelas tidak pernah abu-abu terhadap GNPF dari sejak dilakukannya aksi jalanan, dari saat awal kita menekan Bareskrim, hingga aksi 411 dan 212. PKS jelas ikut kontribusi, terlibat, dan tidak abu-abu,” ujar Ketua GNPF Ulama Ustadz Yusuf Martak.

Pada titik inilah pernyataan-pernyataan lama agar umat menyalurkan suaranya kepada partai-partai Islam yang ada tak lagi relevan. Fokus pada satu partai. Besarkan dan kuatkan. Sehingga umat tak lagi sekadar pendorong mobil mogok.

Erwyn Kurniawan
Presiden Reli
Sumber: blog.pks.id

Oleh: Ahmad Mabruri

Ada yang menarik di ajang final audisi film 8 Stories kemarin.

Salah seorang peserta final Vania Valencia bertanya ke panitia. “Bang saya gak punya perlengkapan solat dan alquran terjemahan.
Saya non-muslim bang.” 🙂

“Oh gakpapa gak usah dibawa. Datang aja.”

Dan selama dua malam tiga hari Vania selalu duduk paling depan dan mencatat serius tausiyah yang disampaikan para ustadz. Aktif bertanya dan disiplin mengikuti kelas akting.

Vania sangat surprise ada PKS partai islam yang tidak melulu bicara politik. Tapi bikin program film yang mengedukasi kaum milenial. Dan dia bangga bisa ikut serta di dalamnya.

Sukses selalu ya Vania!

Sumber: blog.pks.id