Pemilu 2019 dan Fenomena PKS

Oleh : Umar Sholahudin*

Pemilu serentak 2019 telah usai. Berbagai lembaga survey, di antaranya Litbang Kompas, Indobarometer, dan LSI Deny JA, telah mempublikasikan hasil quick count (hitung cepat), baik untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) maupun Pemilihan Legislatif (Pileg). Untuk Pilpres, tidak terlalu ada kejutan politik yang berarti. Dari hasil hitung cepat ketiga lembaga survei tersebut, menunjukkan keunggulan Paslon 01 Joko Widodo-M’aruf Amin, dengan 54% atas Paslon 02 Prabowo-Sandi dengan 46%. Justru yang memberikan kejutan politik ada pada Pileg. Ada perubahan signifikan pada komposisi perolehan suara partai-partai tengah.

Pada Pemilu 2019 kali ini, dua Parpol yang memberikan kejutan politik di luar dugaan banyak orang adalah melambungnya suara dua Parpol, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Berdasarkan hitung cepat beberapa lembaga survei, kedua Parpol tersebut rerata diprediksi akan mendapatkan perolehan suara sekitar 8-9%. Bagi kedua partai tersebut, ini adalah peningakatan perolehan suara yang sangat signifikan bila dibanding Pemilu 2014 yang hanya memperoleh 5-6%. Khusus untuk PKS, berdasarkan tiga lembaga survei, yakni Litbang Kompas memberi angka sebesar 8,76%, Indo Brometer: 9,66%, dan LSI Deny JA: 8,04%. Kedua partai tersebut menematkan urutan ke 5 (PKS) dan ke 6 (Nasdem), di bawah PDI-P (1), Gerindra (2), Golkar (3), dan PKB (4).

Peningkatan suara Nasdem yang cukup merata di berbagai daerah, selain karena ketersediaan logistik yang berlebih dan dukungan media (baca: MetroTV), juga karena faktor dukungan beberapa kepala daerah dari Nasdem dan beberapa Caleg petahana dari kalangan artis yang pindah ke Nasdem. Logistik, media dan figur caleg menjadi magnet politik bagi peningkatan suara Nasdem.

Selain itu, satu catatan penting dalam Pemilu serentak 2019 ini adalah tentang masalah coattail efect (efek ekor jas). Beberapa survei sebelumnya, PDI-P dan PKB diprediksi akan mendapatkan insentif elektoral dari pencalonan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin atau Gerindra yang mencalonkan Prabowo-Sandi.. Akan tetapi faktanya, perolehan dan peningkatan suara ketiga tersebut tidak terlalu signifikan. Kalaupun ada sangat minim pada angka 1-2%. Dengan kata lain, Pemilu serentak, khususnya pada Pilpres kurang memberikan coattail efect terhadap Parpol pengusungnya. Ini berbeda dengan Pemilu 2004, Partai Demokrat yang mencalonkan SBY, mendapat insentif elektoral yang sangat signifikan, dari 7,45% (2004) menjadi 20,85% (2009).

Fenomena PKS

Salah satu Parpol yang patut mendapat sorotan politik adalah PKS. Partai yang dari segi logistik sangat terbatas, dukungan media juga tak ada, apalagi figur, sangat minim. Namun dalam pemilu 2019 kali ini perolehan suaranya meningkat signifikan (8-9%) di banding Pemilu sebelumnya (2014), yakni 6,7%. Dengan perolehan 8-9% akan menempatkan posisi PKS pada urutan 5 atau 6, berpotensi menyodok partai papan atas. Perolehan suara PKS yang cukup fenomenal ini, mengingatkan publik pada perolehan suara PKS pada tahun 2004 sebesar 7,34% (dari sebelumnya 1999: 1,7%). Bahkan di DKI Jakarta menjadi jawara dengan perolehan suara sebesar 22%.

Pada pemilu 2014, PKS terkena badai politik “LHI” yang menjadikan perolehan suaranya turun dari 7,8% (2009) menjadi 6,7%. Saat itu beberapa lembaga survei memprediksi PKS akan jeblok suaranya akibat kasus “LHI”, kenyataannya, masih eksis. Dengan kata lain, meskipun kena badai politik, daya tahan politik PKS luar biasa. Partai kader dengan kumpulan anak muda tersebut mampu melewati masa sulit dengan “happy ending” di Pemilu 2014 lalu. Pada Pemilu 2019 ini, partai dengan tagline-nya : Berkhidmat Untuk Rakyat mampu meraup suara 8-9% versi hitung cepat beberapa lembaga survei nasional. Bahkan untuk DKI Jakarta, PKS berpotensi menjadi jawara dengan perolehan suara sekitar 22% versi real count KPU. Pertanyaan, faktor apa yang menyebabkan PKS menjadi “fenomenal” di
Pemilu 2019 ini.

Pertama, Soliditas mesin partai. Partai anak muda ini dikenal memiliki soliditas organisasii dan mesin partai yang sangat diandalkan. Ujian terberat pernah dilewati pada 2014. Dan pada Pemilu 2019, meskipun ada “gangguan politik” dari internal partai, yakni dengan eksodusnya beberapa elit PKS yang kemudian mendirikan organisasi baru : Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi), dengan tokoh sentralnya Fahri Hamzah dan Anis Matta dan beberapa pengurus di daerah juga eksodus dan berusaha melakukan penggembosan, namun tidak menggoyahkan organisasi. Mesin partai tetap jalan dan bahkan semakin solid. Ini salah satu kelebihan partai modern yang tidak mengandalkan figuritas, tapi kelembagaan partai.

Kedua, PKS memiliki kader-kader yang sangat solid. Ibarat pepatah, hilang satu, tumbuh seribu. Hilangnya tokoh-tokoh PKS, tidak menjadikan proses kaderisasi mandek, justru terus berjalan, laiknya kereta cepat, dan semakin mensolidkan kader-kader di bawah. Berpolitik tak sekedar memburu kekuasaan, tapi lebih dari itu politik adalah bagian dari dakwah.

Ketiga, PKS mampu membuat dan menjadi pembeda (distinguishing). Jika dibandingkan kampanye partai-partai lain, termasuk partai yang sangat mapan, PKS tidak menjual figur, tetapi menjual gagasan baru dalam kampanye yang ditawarkan kepada masyarakat : SIM seumur hidup dan penghapusan pajak sepeda motor. Keduanya menjadi “pembeda” dengan partai-partai lain, dan ini yang sepertinya menjadi magnet politik bagi elektabilitas PKS.

Keempat, munculnya kesadaran dan partisipasi politik islam yang semakin meningkat dengan munculnya fenomena “gerakan 411 atau 212”, memberikan insentif elektoral bagi partai partai islam, dan yang paling mendapat berkahnya adalah PKS. Apalagi tokoh sentral 212, Habib Riziq Shihab secara terus terang memberi dukungan politik kepada PKS. PKS juga mendapat berkah politik dari sikap eksplisit dari ustadz fenomenal, Abdus Somad. Dengan kata lain, meningkatnya kesadaran politik ummat ini, memberikan keberkahan politik tersendiri bagi PKS.

Selain itu, PKS dikenal partai yang sangat rajin merawat konstituennya. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, PKS mampu memberikan lompatan-lompatan politik cukup signifikan. Prestasi fenomenal ini ini tak lepas dari kerja keras, cerdas, tuntas dan ikhlas, serta berkat konsolidasi internal partai yang cukup solid dan mampu mengembangkan citra dan oponi publik yang positif.
PKS juga di nilai publik partai yang cukup konsisten menjaga citra partai yang simpatik dan santun. Masyarakat tertarik bukan karena nilai figuritas yang ditonjolkan partai, namun lebih karena faktor konsistensi dan kolektivitas partai dalam membangun citra diri dengan slogan “Berkhidmat untuk Rakyat”. Ini bukan hanya basa-basi politik saja. Berbagai kegiatan peduli sosial terus dilakukan PKS, baik pada saat Pemilu maupun di luar Pemilu. Pemilu 2019 ini menjadi kado terindah bagi milad PKS yang ke 21 tahun 2019 ini. Semoga PKS mampu menjadi partai yang amanah, harapan dan dambaan masyarakat Indonesia.

*) Mahasiswa S-3 FISIP Unair, Dosen Sosiologi FISIP Univ. Wijaya Kusuma Surabaya

Pergeseran Politik Nasional, PKS Masuk Papan Atas

Pemilihan umum 2019 yang berlangsung secara serentak di seluruh Indonesia menunjukkan gejala perubahan besar. Bukan saja antusiasme masyarakat yang semakin kuat sehingga meningkatkan partisipasi pemilih, melainkan juga pergeseran dalam konstelasi nasional akibat kinerja partai-partai politik yangberkompetisi.

Gejala pergeseran cukup mengejutkandinyatakan Sapto Waluyo, Direktur Center for Indonesian Reform (CIR) yang telah melakukan riset intensif tentang percakapan di media sosial dan pengaruhinya terhadap sikap pemilih. “Sebagian besar pemilih menentukan sikap definitif pada hari-H pencoblosan dan sebagian lagi pada hari-hari tenang. Informasi yang tepat sasaran pada momen tersebut akan mengarahkan pemilih pada kandidat atau partai yang akan dicoblosnya,” ujar Sapto, alumni RSIS Singapura.

Masa kampanye terbuka yang berlangsung selama tiga pekan memang membantu memperluas jangkau pemilih yang semakin sadar pentingnya menunaikan hak politiknya. Sebagian warga dibuat jenuh dengan kampanye tertutup/terbatas yang berlangsung amat panjang. Tetapi, debat kandidat Presiden dan Wakil Presiden di stasiun televisi nasional selama lima babak dan iklan-iklan politik di berbagai media massaturut meningkatkan kesadaran.

“Perilaku pemilih pada akhirnya berdasarkan nilai atau kepentingan paling besar yang mereka rasakan. Mereka mempertimbangkan semua informasi dari beragam sumber, dan memakai sumber yang paling terpercaya: dari keluarga/teman, tokoh agama/masyarakat atau pertimbangan rasional mandiri,” ungkap Sapto yang sedang menempuh studi doktoral di Universitas Indonesia.

Sapto juga mengutip survei nasionalLembaga Kajian Strategis dan Pembangunan (LKSP). Survei dilakukan pada 17-31 Maret 2019, dengan jumlah responden 1.369 orang dan margin of error ± 3% serta tingkat kepercayaan 95%. Responden menyebar di 137 TPS (Tempat Pemungutan Suara) di 137 desa, pada 34 provinsi seluruh Indonesia.

Kerangka sampel pada seluruh TPS yang tercantum dalam DPS Pemilu 2019, dan responden ditentukan dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) di DPS Pemliu 2019. Metoda penentuan sampel adalah Multistage Random Sampling. Pada tahap pertama (systematic random sampling) memilih TPS yang akan disurvei. Alokasi jumlah sample TPS proporsional dengan populasi provinsi dan sistematik berdasarkan letak geografis. Tahap kedua: memilih responden dari DPT, Pada TPS terpilih ditentukan 10 responden yang secara acak diambil dari DPT yang diumumkan KPU.

Karakteristrik responden seimbang antara jenis perempuan (50%) dan lelaki (50%). Sementara dari segi usia: kelompok 16-25 tahun (17,9%), 26-35 tahun (19,8%), 36-45 tahun (22,8), 46-55 tahun (21,0%), 56-65 tahun (10,2%) dan >65 tahun (4,2%). Pendidikan yang ditempuh, sebagian besar responden tamat SMA/MA/SMK (31,6%), tamat SD/MI (23,5%) tamat SMP/MTs (20,4) dan tamat PT/sarjana (10,0%). Sementara dari segi pekerjaan, mayoritas respon sebagai ibu rumah tangga (27%), wiraswasta (19%), petani (18%), pegawai (9%), buruh pabrik (8%), pengangguran (4%) dan lain-lain.

Sebagian besar masyarakat (92,3%) sudah mengetahui pemilu tanggal 17 April 2019 akan dilakukan secara serentak antara pemilihan Presiden dan pemilihan anggota legislatif. Karena berlangsung serentak, pemilu kali ini akan menyita perhatian warga. Sebagian besar pemilih (84,4 %) lebih memperhatikan pemilihan presiden, kemudian 9,4 % memperhatikan pemilihan DPRD Kabupaten/Kota. Pemilihan lain sangat minim.

Yang mengejutkan dari survei LKSP adalah elektabilitas partai politik yang akan dipilih warga. PDIP menempatiranking teratas (22,7%), Gerindra di posisi kedua (12,2%) dan ketiga Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan nilai 6,9%. Diikuti Golkar (6,2%), PKB (5,6%), Demokrat (4,6%). Partai-partai lain berada di bawah ambang batas parlemen (4%), yakni PPP (3,6%), Nasdem (3,6%), PAN (2,2%), Perindo (1,2%), Hanura (0,9%), PSI (0,3%), Garuda (0,1%), PBB (0,1%), Berkarya (0,0%).

Tampilnya PKS ke papan atas perpolitik nasional sebenarnya sudah terbaca dari survei-survei sebelumnya yang dilakukan Litbang Kompas, CSIS dan lembaga lain. Namun, lembaga-lembaga tersebut selama ini hanya memprediksi PKS lolos ke papan tengah nasional. Lalu, mengapa LKSP memperlihatkan peluang PKS masuk ranking utama politik nasional?

Alasan warga memilih partai dalam pemilu legislatif karena: ketokohan pimpinannya (6,5%), kinerja kadernya (5,2%), visi da nisi partai (4,1%), program kerja kongkrit (3,7%), sikap pro-rakyat (3,3%) dan posisi Partai Islam (1,8%).“Dalam kontek PKS, kita melihat sosok Ketua Majelis Syuro Habib KH Salim Segaf al-Jufri yang dekat dengan kalangan ulama dan tokoh-tokoh masyarakat di berbagai daerah. Kinerja kader PKS juga tampak menonjol sebagai mesin politik efektif melakukan sosialsasi di kalangan tetangga dan segmen potensial (kaum perempuan dan millennial),” jelas Sapto.

Sapto melihat kemungkinan terjadi pergeseran politik nasional karena kondisi makro yang berubah sejak gerakan 212 bergulir di Ibukota DKI Jakarta (2016), Kemudian setelah itu ada pemilihan Gubernur DKI Jakarta (2017) yang menunjukkan bahwa rakyat mampu melakukan perubahan. Dan, dipuncaki dengan gerakan sosial #2019GantiPresiden yang berlangsung di seluruh Indonesia.

“Terutama untuk PKS, gerakan 212 berperan besar untuk membuktikan PKS mampu mengadvokasi aspirasi umat Islam dan dekat dengan warga akar rumput. PKS mengembangkan isu-isu kampanye yang membumi seperti: Penghapusan pajak kendaraan bermotor roda dua, pemberlakukan SIM seumur hidup, penghapusan pajak bag penghasilan di bawah Rp 8 juta (batas pemberlakuan pajak penghasilan minimal), serta perilindungan ulama, tokoh agama dan simbol-simbol keagamaan,” simpul Sapto.

Sejumlah faktor makro dan mikro politik bertemu dan membentuk resultante yang positif bagi kinerja PKS di mata pemilih. Tak aneh, PKS bisa lepas dari jebakan pilpres (efek ekor jas), sehingga posisinya makin mandiri, walau tidak ada kadernya dicalonkan sebagai capres atau cawapres.

Sumber: saluransatu.com

Mengapa Saya Memilih PKS

Pagi itu 2 bulan sebelum menjalani operasi bedah jantung Saya kedatangan tamu istimewa.

Saat sedang berbincang dengan seorang teman yang datang menjenguk dirumah, dari kejauhan tampak seseorang turun dari sebuah mobil. Menggunakan batik lengan panjang berwana coklat. Saya melihat sekilas dan berujar kepada teman disebelah, ”Mas Jamil !! Karena tampak sekilas tamu tersebut seperti sahabat Saya yang juga seorang impirator Sukses Mulia, Jamil Azzaini.

Segera saya beranjak dari bangku membuka pintu menyambut tamu yang sudah mulai menaiki tangga teras depan rumah.

Alangkah kagetnya ketika tamu itu semakin dekat, ternyata beliau adalah Habib DR.Salim Segaf Al Djufri, orang nomor satu PKS, Ketua Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera.

Segera saya ambil tangan beliau dan menciumnya, tapi beliau menariknya tidak ingin diperlakukan begitu. Sayapun mempersilahkannya masuk dan duduk dirumah kami yang kecil dan sederhana. Merasa tidak sopan menyambut beliau dengan sarung dan pakaian seadanya,saya bermaksud hendak berganti pakaian. Tapi beliau menyuruh saya tetap duduk dekat beliau.

Kami berbincang ringan, seputar sakit yang Saya derita. Lebih banyak nasihat beliau yang Saya terima agar bersabar menghadapi sakit jantung yang Saya derita.

Kalimat-kalimat yang meluncur dari mulut DR. Salim hanya hasihat spiritual, hal-hal posifif, tidak ada satupun yang menggurui apalagi menghakimi orang lain.

Tidak ada perbincangan politik, hanya seputar kesehatan dan hal-hal yang bersifat ruhiyyah (spiritual).

Coba Anda bayangkan, ditengah sakit jantung yang hampir satu tahun diderita, tiba-tiba datang ke rumah orang yang menghibur, menasehati dan memberikan semangat hidup.

Saya bukan pengurus PKS, Saya hanya orang biasa yang kebetulan pernah belajar agama di rumah beliau di Condet.

Kedatangan Habib Salim beserta Dr. Agus, seorang dokter spesialis jantung ke rumah seperti memberikan energi, semangat, harapan serta optimisme dalam menghadapi sakit yang Saya derita. Apalagi saya mendengar dari seorang sahabat bahwa Habib Salim sejak dulu memang gemar menjenguk orang sakit, bahkan ditengah kesibukannya sebagai Ketua Majelis Syuro PKS kegemaran beliau ini tetap dijalani.

Alhamdulillah dua bulan setelah kunjungan tersebut Saya menjalani operasi bedah jantung yang difasilitasi oleh teman-teman dan dokter-dokter dari PKS sehingga Alhamdulillah operasi selama 6 jam berjalan lancar dan sekarang Saya telah kembali pulih serta mulai melakukan aktifitas seperti sedia kala.

Hal inilah yang membuat Saya semakin cinta kepada PKS dan In syaa Allah akan selalu bersama PKS. Bukan saja karena aksi kader-kader PKS yang selalu menjadi yang terdepan dalam aksi-aksi kemanusiaan dan penanggulangan bencana, tapi juga kepedulian Pemimpin PKS terhadap murid serta saudaranya yang sedang diuji oleh Allah SWT.

Semoga ini menjadi sebuah renungan bagi kita bersama, untuk terus berjuang bersama orang-orang sholeh seperti beliau-Habib Salim Segaf Al Djufri dalam membangun negeri yang kita cintai ini.

AyoLebihBaik!
17AprilPilihPKS
2019PKSMenang

Valentino Dinsi
Pimpinan Majelis Ta’lim Wirausaha, – Wakil Ketua Dewan Ekonomi Syairah 212 – Pendiri dan Mantan Ketua 1 Koperasi Syariah 212

PKS, Angka 8, dan Tren 2004

PKS kembali mendapat nomor urut 8 dalam pemilu legislatif. Sepuluh tahun lalu, partai dakwah ini mendapat nomor urut yang sama. Tak perlu utak atik gathuk untuk memaknai hal ini. Tapi jadikan penyemangat untuk menyambung tren yang pernah diraih pada pemilu 2004.

Unik, nomor urut PKS biasanya berkelipatan 8. Pada pemilu 1999, saat masih bernama Partai Keadilan, angka 24 menjadi penanda keikutsertaan perdana partai yang konsisten dengan lambang dua bulan sabit kembar ini dalam pentas perpolitikan. Kala itu mereka meraih 1,36% suara.

Lima tahun kemudian, hasil undian yang keluar adalah nomor 16. Juga angka kelipatan 8. Saat itu raihan mereka melonjak menjadi 7,34% suara.

Di tahun 2009, angka 8 menghiasi bendera-bendera kampanye mereka. Tapi tren kenaikan pada 2004 lalu gagal dijaga. Mereka hanya meraih 7,88% suara.

Di tahun 2014, tidak lagi berkelipatan delapan, tapi nomor urut 3. Bila angka 8 dihapus sebelah kirinya, didapatlah angka 3.

Memang tidak ada kaitannya antara nomor urut dengan prestasi politik. Sebuah angka tidak bisa memberi manfaat atau pun mudhorot kepada suatu makhluk pun di dunia ini. Begitulah prinsip orang yang imannya mendalam kepada Allah swt.

Hanya saja saya teringat hal yang unik 10 tahun lalu. Memaknai angka 8, Sekjen PKS Anis Matta kala itu mengaitkan dengan kepercayaan orang Tionghoa. “Angka 8 adalah angka hoki. Angka 8 merata gemuknya. Jangan seperti angka 9, karena gemuknya di atas dan gemuknya tidak rata,” ujarnya. Ucapannya ini kemudian direspon oleh Ketua PBNU Ahmad Bagja. “Justru itu aneh. Kok PKS percaya ke mistik, ada angka hoki dan tidak hoki. Ya menurut saya anehlah.”

(Beritanya masih terarsip pada tautan: https://pksbeji.wordpress.com/2008/08/11/pks-tricky-soal-angka-hoki-8/ , https://www.portal-islam.id/2008/08/anis-matta-angka-8-gemuknya-merata-beda.html , dan https://pksbeji.wordpress.com/2008/08/11/ketua-pbnu-pks-kok-percaya-hoki/ )

Saya bersyukur pada pemilu kali ini tidak ada lagi yang mengaitkan nomor 8 dengan kepercayaan di luar Islam.

Setelah memperoleh lonjakan yang tinggi pada pemilu 2004, kader PKS banyak yang yakin tren itu terjaga pada 2009. Target mereka adalah 3 besar, bahkan 20% suara. Kejutan dari pilkada DKI Jakarta 2007 menjadi penanda. Di mana pasangan Adang Darajatun – Dani Anwar yang mereka usung merengkuh kepercayaan masyarakat ibu kota sebanyak 42.13%. Padahal pasangan ini diramal tak kan mampu mencapai di atas 30%.

Kader PKS kala itu dalam kepercayaan diri tinggi. Kampanye di Gelora Bung Karno dikalkulasikan hingga 122 ribu orang (tautan: https://news.detik.com/pemilu/1111930/kampanye-diikuti-122-ribu-orang-pks-masuk-muri ), sampai-sampai mendapat piagam rekor Museum Rekor RI (Muri) sebagai peserta kampanye terbanyak di GBK.

Tapi bayang-bayang nama besar SBY rupanya tak bisa terbendung. Akhirnya, jangankan dua puluh persen, sepuluh persen saja gagal diraih PKS. Tak ada pengulangan cerita mengagumkan seperti lima tahun sebelumnya. Faktor lain adalah pecahnya barisan di tubuh partai. Bahkan orang awam pun memprediksi hal ini. Saya pernah menguping pembicaraan karyawan kantoran yang sedang ngobrol politik. Salah seorang bilang, dengan fenomena FKP, PKS tidak akan mampu berjaya di 2009. Rupanya ucapannya benar.

Kini dua hal yang mirip tengah dihadapi PKS. Yaitu nama besar capres yang diusung, Prabowo, yang secara coat-tail effect akan memberi keuntungan kepada Gerindra. Dan munculnya ormas baru yang didirikan sebagian kader partai yang tak percaya dengan pimpinannya.

Akankah angka 8 persen kembali menjadi kerangkeng bagi komunitas tarbiyah ini?

Silakan dianalisa. Tapi saya rasa PKS kali ini akan menyambung kesuksesan angka 8 yang sempat gagal dulu. Ya, saya percaya partai ini akan melonjak kembali di 2019. Walau dengan kenaikan yang tak se-drastis 2014.

Coat-tail effect tak dipungkiri. Tapi bukan berarti itu akan memblokir dukungan kepada PKS. Karena tokoh lain yang berpengaruh seperti ulama yang sedang terasing di kota kelahiran Nabi Muhammad saw (saya tak sebut namanya untuk menghindari telinga mar jukerberg menjadi panas. Karena tulisan ini akan diposting di FB), juga Ustadz Abdul Somad, Ustadz Haikal Hasan, dan para pemuka agama lain, serta ormas-oramas Islam menyatakan dukungannya kepada partai ini. Nama-nama tersebut punya pengaruh yang tak kalah hebat dari Prabowo.

Selain itu, perpecahan yang dialami PKS justru membuat partai ini berjalan ringan tanpa beban. Kader-kadernya tak lagi merasa canggung karena pernyataan nyeleneh tokohnya di depan publik, sebagaimana kata sinting yang pernah terlontar. Justru perpecahan kali ini membuat kader yang masih bertahan di dalam semakin mantap untuk berjalan dengan mabda’-mabda’ (prinsip-prinsip) dakwah yang selama ini dijadikan jargon. Allahu ghoyatuna semakin kokoh di hati menepiskan cemoohan orang-orang yang keluar barisan yang berkata “politik kok mencari berkah?”

Kualitas perpecahan tahun 2009 berbeda dengan 2019. Dulu, sebagian kader dipecat karena menuntut agar barisan kembali kepada asholah dakwah. Kini sebagian kader membangkang gara-gara persoalan kursi basah. Justru yang bertahan ingin agar langkah-langkah PKS berorientasi berkah, bukan maneuver zig-zag dengan aroma pragmatisme yang membingungkan kader, simpatisan, dan ummat Islam.

Saya merasakan getaran spirit kader PKS yang meninggi di tahun ini. Ya, kita lihat saja nanti. Semoga harapan saya benar.

Zico Alviandri

Sumber: blog.pks.id

,

Inilah Para Ulama dan Tokoh Agama yang Mendukung PKS

Assalamualaikum gaes
Kamu harus tau ni
Jelang pemilu 17 April ni wajib nonton ini dulu
Alhamduillah banyak dukungan dari ulama dan habaib kepada PKS
Siapa aja yuk kita simak

Pertama adalah Ustadz Haikal Hassan, ustadz yang biasa dipanggil Babe Haikal ini mendukung PKS gaes
Kata Babe PKS tidak pernah abu-abu, sejak awal berdiri nya PKS memperjuangkan keislaman

Lalu yang kedua ustadz Yusuf Martak, ulama yang dikenal sebagai ketua GNPF Ulama ini mendukung PKS dan perjuangan PKS yang dikenal nya sudah lama PKS menurut ustadz yusuf martak
PKS adalah partai yang jelas keberpihakannya kepada umat islam.

Yang ketiga adalah Kyai Haji Slamet Maarif, Kyai Haji Slamet Maarif adalah ketua Perhimpunan Alumni 212 atau PA 212 dan beliau menyatakan siap mendukung PKS karena PKS berkomitmen untuk memperjuangkan islam
dan siap berkomitmen bersama memperbesar partai islam di parlemen,

Yang keempat adalah Ustadz Abdul Somad, ulama kharismatik ini mengatakan dalam wawancara nya menganjurkan kepada umat untuk memilih PKS karena menurutnya PKS adalah salah satu dari 2 partai yang
menegakkan amar maruf nahi munkar di parlemen

Dan yang terakhir adalah HabibanaIB HRS, HRS dalam beberapa kesempatan menyatakan dukungan nya terhadap partai keadilan sejahtera dan pada senin 8 april 2019 lalu saat ketua Majelis Syuro PKS , Habib Salim Segaf al-jufri menemui di Mekkah , HRS mengatakan bahwa ia mendoakan agar PKS menang di Pemilu 2019 ini sehingga MPR DPR RI diisi oleh orang-orang soleh.

Nah itu dia gaes diantara sekian banyak nya para ulama dan habaib yang mendukung PKS yang bisa Bang DB infokan sementara ini

Jangan lupa klik di sini untuk subscribe PKSTV di youtube karena subscribe itu gratis

See you next time

Wassalamualaikum warrrahmatullahi wa barokatuh

Masih Ragu Pilih PKS?

“Para Pendeta dari 12 Gereja di Pekanbaru ini bertemu dengan ana (saya), Kang. Mereka menyatakan siap mendukung ana untuk bisa mengemban amanah di Parlemen,”

Demikian Kak Nita (dr. Arnita Sari, istri Ketua DPW PKS Provinsi Riau H. Hendry Munief, MBA) memulai pembicaraan kami menjelang hidangan makan malam hadir. Di salah satu rumah makan di Pekanbaru.

Lebih lanjut Kak Nita menuturkan bahwa dirinya tahu, daerah tempat para Pendeta dan jemaatnya tadi merupakan pemukiman non muslim dan basis kuat salah satu partai pendukung petahana.

“Ana mengambil hikmahnya, meskipun mereka dari kalangan Kristiani, tapi mereka percaya bahwa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan para kadernya adalah partai yang tidak mereka ragukan kredibilitasnya,” sambung Kak Nita.

Aku mengangguk. Ya memang demikian adanya yang terjadi di masyarakat. Bahkan ulama seperti Ustadz Abdul Somad pun sampai merekomendasikan memilih PKS. Tak ketinggalan dengan Ustadz-Ustadz lain di negeri ini seperti Ustadz Bachtiar Nasir, Ustadz Haikal Hassan, hingga Imam Besar Habib Rizieq Shihab. Semuanya merekomendasikan ummat memilih PKS!

“Memang setelah menjadi Anggota Dewan ya kita menjadi milik rakyat. Dimana pun mereka, apapun agamanya. Aspirasi mereka tentu saja aspirasi anak bangsa yang hajat hidupnya harus ditunaikan. PKS sangat terbuka terkait ini. Lihat saja bagaimana PKS mendapat tempat di hati masyarakat Papua saat ini”

Kulihat Bang Munief turut memperhatikan pemaparan Sang Istri.

“Betul sekali. Memang kita (PKS) ya terbuka. Salah satunya dalam bekerjasama di masyarakat, bahkan dengan partai politik lainnya,” Bang Munief akhirnya berujar.

“Subuh kemarin, Selasa (02/04), ana mengisi kultum di Masjid. Ketua Takmir Masjidnya adalah Ketua salah satu partai. Dia mengendors ana ke jamaahnya. Di luar agenda kultum ana dikenalkan sebagai Caleg DPR RI, dan beliau mendorong jamaah Masjidnya untuk dukung ana. Ini silaturahim dan kepercayaan yang luar biasa,” sambung Bang Munief.

Pembicaraan kami kurasakan semakin hangat dan menarik. Kak Nita menggambarkan bahwa amanah yang diembannya sebagai Caleg DPRD Provinsi Riau mengenalkannya pada hikmah yang luar biasa.

“Ada hikmah buat diri ana atas amanah pencalegan ini. Ana bisa mengenal dan bersilaturahim dengan banyak orang. Terpenting ana tahu, bahwa yang percaya dan mendukung PKS ternyata sangat banyak. Inilah jalan dakwah yang ana pahami keberadaannya,” pungkas Kak Nita sesaat setelah pramusaji meletakan hidangan makan malam di meja.

Aku tertunduk. Alangkah indahnya perjuangan dalam barisan ini. Barisan manusia yang kesehariannya ditelaah dan diingatkan tentang sholat, sedekah, tilawah Al Qur’an, dan kebaikan-kebaikan lainnya oleh para Ustadz masing-masing.

Ternyata, dalam telaah amal-amal harian tersebut tersirat sebuah pelatihan, bahwa suatu hari siapapun orangnya dalam barisan dakwah di PKS akan mengemban amanah kepercayaan masyarakat. Tentu saja amal-amal harian yang berkesinambungan tadi akan menjadi rem bagi setiap keburukan yang mungkin timbul.

Tiba-tiba aku teringat seorang sahabat yang dengan nada sumirnya bertanya padaku;

“Oh, masih di PKS juga?”

Aku tersenyum. Jawabku teramat singkat.

“Alhamdulillah. Teman-teman non muslim dan partai lain saja percaya PKS. Masa aku tidak?”

Tak terasa waktu menunggu, hidangan makan malam telah semuanya tersaji. Tak lama rasanya, seumpama aku menunggu 17 April 2019. Hari dimana dukunganku terhadap PKS akan kunyatakan secara resmi. Tanpa ragu, tanpa malu, karena cinta memang butuh diungkapkan! #eeaa

Ewa (Reli Kepri)

Sumber: blog.pks.id

PKS Sedang Menjemput Takdir Sejarahnya

Melihat antusias umat, rasanya PKS memang sedang menjemput takdir sejarahnya. Meraih suara dua digit, bahkan bisa jadi melampaui perolehan suara partai Islam sejak Orde Baru hingga paska reformasi

Contohnya bendera yang berkibar tinggi di langit Mustika Jaya, Kota Bekasi ini. Yang memasang bukan kader PKS. Dia warga saya.

Jelang tengah malam meminta bendera besar kepada saya lalu dipasang. Sama sekali saya tidak menyuruhnya untuk memasang. Mungkin dia tahu betul kalau saya sebagai Ketua RT nya kader PKS tulen 😆

Saya yakin kondisi serupa juga dialami di banyak wilayah lain. Terutama para caleg yang dibantu oleh masyarakat dalam memasang baliho, spanduk dll.

Antusiasme di lapangan berkelindan dengan hasil survei berbagai lembaga. PKS ada di kisaran 4-6%. Yang terbaru dari Indikator pimpinan Burhanuddin Muhtadi yang menyebut elektabilitas PKS di angka 6%.

Merujuk pada hasil-hasil pemilu sebelumnya, suara PKS selalu 2-3 kali lipat dari hasil survei. Jadi tidak berlebihan kalau saya termasuk orang yang optimis PKS mampu menembus dua digit.

Seperti bendera PKS yang berkibar tinggi di langit Mustika Jaya, begitu pula harapan kita pada partai dakwah ini. Suaranya juga harus berbanding lurus. Melonjak tinggi pada 17 April nanti.

Karena PKS sedang menjemput takdir sejarahnya…

Erwyn Kurniawan
Presiden Reli

Sumber: blog.pks.id

Pahlawan Dalam Diam

Waktu tengah beranjak di sepertiga malam. Hujan rintik jatuh ke bumi diiringi suara katak bersahutan. Dingin. Angin berembus menjelajah sela dedaunan. Saat itu, ketika kebanyakan manusia terlelap dibalik kehangatan selimut, dua orang manusia terlihat sibuk menyusuri sepanjang jalan, menapaki gang demi gang. Menerobos hujan. Hanya bermodalkan sepeda motor butut.

Senyap keduanya bergerak penuh kehati-hatian. Gerakan-gerakan cepatnya menandakan keberadaan mereka tak ingin diketahui orang lain. Namun sangat disayangkan, sepasang mata Ustadz Narlis ternyata berhasil mengawasi gerak-gerik mereka. Sang Ustadz pun perlahan mendekat.

“Siapa itu?” tanya Ustadz Narlis. Kedua orang itu terperanjat kaget.

“Afwan (maaf-red), ini ana, Ustadz. Satu lagi putra ana,” sosok yang lebih besar menjawab tergagap.

Ustadz Narlis tak kalah terkejut. Temaram lampu dan rintik hujan ternyata mengaburkan pandangan beliau dari sosok yang sejatinya telah ia kenali.

“Subhanallah…antum sedang apa hujan-hujanan seperti ini?,” tanya Ustadz.

“Ana…afwan, Ustadz. Ana sedang memasang stiker milik caleg-caleg PKS. Ana ingin turut membantu kemenangan dakwah ini, Ustadz,” tuturnya.

“Lho bukannya antum caleg juga?”

“Betul sekali, Ustadz. Ana caleg. Tapi demi Allah, ana tak memiliki dana untuk membuat stiker, baliho dan atribut lainnya. Untuk biaya hidup saja kesulitan…,” sesaat lelaki ini menghela nafas dalam.

“Ana mohon izin, Ustadz. Biarlah ana menjadi tim sukses bagi saudara-saudara ana yang lainnya. Ana ikhlas demi dakwah ini, Ustadz,” tulus lelaki ini berujar.

Hujan, dingin, angin. Ketiganya belum jua berhenti. Kalimat demi kalimat sang lelaki menghunjam kesadaran Ustadz Narlis. Membawa beliau menelusuri kiprah dalam pengabdiannya kepada dakwah ini. Namun Ustadz Narlis sadar, nun jauh di lubuk hati beliau mengakui, lelaki di hadapannya adalah orang yang penuh ikhlas dan berjuang karena Allah Swt semata.

“Demi Allah, mulai malam ini, antum adalah murabbi ana,” Ustadz Narlis tak kuasa menahan tangis. Beliau memeluk erat lelaki di hadapannnya. “Antum telah mengajarkan ana tentang keikhlasan yang luar biasa,” sang Ustadz melanjutkan. Keduanya berpelukan dalam jalin persaudaraan. Erat. Hangat. Saling menumpahkan air mata.

Ustadz Narlis begitu terenyuh. Yang ia kenal, lelaki di hadapannya begitu bersahaja. Tak pernah mengeluhkan kesulitan hidup kepada ikhwah lainnya. Hingga saat ia diamanahkan untuk menjadi calon anggota dewan pun, tak tampak raut gusar di wajahnya. Namun apa yang dilakukannya malam itu begitu luar biasa. Ia membantu memasang stiker dan atribut milik caleg-caleg dari PKS lainnya. Ia mampu menepis segala keserakahan akan jabatan dan lebih mengutamakan kemenangan perjuangan dakwah yang diretas Partai Keadilan Sejahtera.

“Ana mohon, jangan sebutkan nama ana kepada siapapun, ustadz. Biarlah hanya Ustadz dan Allah Swt yang tahu apa yang kami lakukan untuk dakwah ini,” sang lelaki berpesan.

“Ana berjanji tidak menyebut nama antum. Namun ana akan mengisahkan pertemuan kita ini sebagai pembelajaran bagi ana dan seluruh ikhwah kita,” demikian Ustadz Narlis menjawab.

Sejenak kemudian sang lelaki dan anaknya pergi. Meneruskan apa yang mereka kerjakan. Perlahan, sosok keduanya menghilang dalam gelap malam. Suara sepeda motornya lapat. Menghilang. Jauh. Dalam. Membawa segenap cita-cita kemenangan dakwah.

Dan Sang Ustadz tak henti meneteskan air mata. Untuk sebuah pelajaran berharga. Tentang keikhlasan, perjuangan, dan pengejawantahan nilai-nilai tarbiyah yang tak terkirakan di hadapannya. Tentang seorang caleg yang ikhlas membantu caleg lainnya dalam kesenyapan. Tentang sosok pejuang. Tentang sosok pahlawan yang bekerja dalam diam.

Pun tentang sebuah janji, untuk sebuah nama. Yang harus dijaga dalam hati. Hingga nanti di penghujung waktu. Hingga nanti, saat bersua di Jannah-Nya. Semoga.

Oleh: Eko Cecep Wahyudi

_______

Dikisahkan oleh Ustadz Narlis, MA –

Sumber: blog.pks.id

Cara Praktis Mempertimbangkan Partai yang Akan Dipilih

Hi guys! Udah siap merasakan serunya El Clasico? Bukan cuma nonton, bahkan kita bisa terlibat langsung lho…!!

Hehe.. Ini bukan El Clasico antara Real Madrid vs Barcelona. Tapi pertarungan yang selalu panas di negeri ini tiap 5 tahun sekali. Yupz… Pemilu legislatif dan Pilpres.

Gak mau pusing? Iya sih, lebih enak mantengin video-video lucu Ria Ricis dan keluarga Gen Halilintar dari pada harus menganalisa siapa yang pantes buat dipilih. Puyeng bro. Belum lagi ajang bully-bullyan, kata-kataan, sindir-sindiran, dari para pendukung capres/parpol yang bikin bangsa ini kegerahan. Ditambah lagi sekarang masanya equinox.

Tapi mau gimana lagi, event itu masa depan kita. Kita mau cuek atau antusias, bakal ada sekelompok orang di gedung DPR yang bikin Undang-undang yang mengatur kita mau ngapa-ngapain. Bisa aja peraturan itu bikin tertib masyarakat, atau malah rese’, dikit-dikit ancemannya penjara, kayak artikel 13 buatan parlemen Uni Eropa.

Kita mau cuek atau peduli, akan ada orang-orang yang punya kesempatan korupsi uang rakyat. Kalau mereka jujur dan amanah, alhamdulillah. Tapi kalau mereka curang, hak kita dirampas mereka.

Maka itu guys, mau gak mau kita harus peduli. Pilih yang kompeten, yang gak rese’, yang mau berjuang buat rakyat, dan jujur amanah.

Gimana caranya menyeleksi sekian banyak orang?

Nah, ada salah satu cara instant untuk menganalisa. Gak susah-susah amat kok untuk dianalisa, mumpung masih beberapa hari lagi.

Kita generasi pemilih pemula patut menerapkan reward dan punishment buat partai-partai itu. Kita hukum partai yang banyak masalah dan melahirkan koruptor, dan kita apresiasi partai yang paling sedikit terlibat kasus korupsi. Begitu caranya.

Tanya kepada ahlinya ahli, intinya inti, core of the core. Eits.. ini bukan Pak Endul ya. Kita tanya ke google. Ada banyak grafis peringkat korupsi partai-partai. Baik anggota dewan atau pun kepala daerah.

Kata kunci gak perlu susah-susah. Misalnya “grafik korupsi partai”, cari di google image. Maka muncul infografis yang memudahkan kita untuk menganalisa, mana partai yang perlu dihukum dan mana partai yang perlu diapresiasi.

Tidak harus langsung mendapat satu kandidat partai yang coblosable. Setidaknya ada 2-3 partai nominasi, setelah itu pelajari lebih detail.

Sudah jelaskan, guys? Itu cuma salah satu cara saja. Lebih mudah. Tapi bisa efektif untuk aksi menekan korupsi.

Kalau pernah belajar teori peluang di pelajaran Matematika, kita bisa ukur probabilitas sebuah partai memunculkan korupsi. Mungkin ada yang berdalih, “namanya juga oknum. Jangan generalisasi dong…”. Oke, kita pilih partai yang paling sedikit melahirkan oknum. Kalau banyak koruptornya, itu mah bukan oknum, tapi memang sarangnya.

Teuku Muhammad Zacky
Caleg DPRD Provinsi Banten Nomor Urut 4
Dapil Kabupaten Tangerang A
Kelapa Dua, Legok, Pagedangan, Cisauk, Curug, Cikupa, Panongan,
Tigaraksa, Jambe, Jayanti, Solear, Cisoka, Balaraja

Sumber: blog.pks.id

Rumah Besar Rakyat Bernama PKS

Oleh: Ahmad Mufti Salim, Ketua DPW PKS Lampung.

Menjadi bagian dari panggung perpolitikan Indonesia yang gegap gempita setiap 5 tahun sekali merupakan prestasi yang dimiliki partai-partai besar. Salah satu partai yang diperhitungkan adalah PKS atau Partai Keadilan Sejahtera.

Partai yang terlahir dari rahim reformasi 20 tahun lalu ini masih menjadi partai favorit tempat rakyat berkeluh kesah. Walau sering kali didera isu ‘basi’ yang mencoba menumbangkan eksistensi PKS, PKS tetap eksis dengan berbagai program layanan di tengah masyarakat.

Sebut saja layanan kesehatan, lumbung darat hingga yang acap kali terlihat di beberapa media televisi adalah gerak kader PKS yang cepat dalam penanggulangan bencana-bencana besar di Indonesia.

Didukung banyak pihak di masyarakat tidak membuat PKS jumawa dengan semua kepercayaan yang ada. Hingga kini, PKS masih tetap menjadi lumbung aspirasi masyarakat untuk menyampaikan ‘uneg-uneg’ mereka tentang segala kebijakan yang ada di negara ini.

Kita tidak bisa menyangkal, bagaimana kader PKS yang duduk di parlemen sering kali muncul dan vokal dalam berbagai permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat. Sebut saja aksi Muzammil Yusuf yang pernah lantang menyuarakan tentang pembelaan seorang Fahmi yang dikriminalisasi karena aksinya membawa bendera merah putih bertuliskan tauhid sehingga satu ruangan sidang saat itu bergemuruh suara takbir.

Lain Muzammil, lain pula dengan Almarhumah Lena Rahman. Dalam keadaan yang kurang sehat, almarhumah Lena Rahman masih saja melakukan kewajibannya pada masyarakat walau saat itu dibantu dengan selang infus.

Belum lagi kader militan yang berada di daerah-daerah yang minim fasilitas. Tak jarang kader PKS menjalani aktifitas keummatan mereka membelah rimbanya hutan, tanah yang berlumpur hingga jalanan yang rusak parah karena pembangunan yang belum merata.

Ternyata bukan hanya kader PKS yang menjadi sorotan. Kantor wilayah PKS khususnya di wilayah Lampung sering dijadikan tempat berkumpulnya masyarakat bukan hanya dari kalangan kader dan simpatisan. Tetapi masyarakat umum dari berbagai lintas organisasi, profesi, hobi dan komunitas sering menggunakan arena kantor wilayah PKS untuk berkegiatan. Seperti halnya latihan bela diri, senam aerobik para ibu, untuk kegiatan kesenian hingga acara pelatihan-pelatihan mulai parenting hingga UKM.

Tak pelak, jika rumah besar rakyat itu bernama PKS karena banyaknya kelompok-kelompok masyarakat yang merapat ke partai berlambang bulan sabit kembar ini sekaligus mengantarkan dukungan mereka di pileg dan pilpres tahun ini.

PKS adalah payung berteduhnya semua lapisan masyarakat. Mulai dari akar rumput hingga para pakar dan profesional yang menginginkan negeri ini lebih baik.